Pesta Rakyat Hari Jadi Daerah Tanpa Pemborosan?

TANJUNG REDEB – Keterbatasan anggaran tak menyurutkan semangat perayaan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan Hari Jadi ke-216 Kota Tanjung Redeb. Berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan seremoni kemegahan panggung pemerintahan, tahun ini Pemerintah Kabupaten Berau menggeser fokus perayaan menjadi sebuah pesta rakyat yang inklusif dan partisipatif.

Kebijakan efisiensi anggaran justru menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melahirkan ruang-ruang partisipasi baru bagi masyarakat luas. Peringatan hari jadi tidak lagi menjadi panggung milik pejabat semata, melainkan ajang unjuk gigi bagi para atlet lokal, pegiat seni, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Sejak awal September, denyut perayaan begitu terasa di tengah-tengah pemukiman warga. Kolaborasi antarperangkat daerah terbukti mampu menghadirkan rangkaian agenda yang padat dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat tanpa membebankan anggaran pada satu instansi saja.

“Beberapa kegiatan memang ada perubahan, ada yang dibatalkan, ada juga yang disesuaikan. Jadwal yang ada sekarang kembali dimunculkan dengan penyesuaian berdasarkan kondisi di lapangan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budi Santosa saat dikonfimasi Rabu (23/9).

Masyarakat disuguhi beragam perhelatan yang melibatkan interaksi langsung, seperti Turnamen Bola Voli dan Sepak Bola Bupati Cup antarkecamatan, hingga ajang lari Berau Independence Run yang sukses mengumpulkan ribuan peserta.

Tak hanya olahraga modern, nilai-nilai kearifan lokal juga mendapat porsi besar melalui tradisi Baturunan Manurunkan Perau serta perlombaan olahraga tradisional yang menghidupkan kembali nostalgia dan identitas kebudayaan Banua.

Memasuki pekan terakhir September, fokus kegiatan bergeser pada penguatan budaya dan potensi ekonomi lokal. Perhelatan Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, serta Festival Kue Tradisional menjadi ajang pembuktian bahwa kuliner warisan leluhur dapat menjadi daya tarik pariwisata yang bernilai ekonomi.

Puncak kemeriahan rangkaian perayaan ini bakal ditutup dengan perhelatan akbar Berau Ethno Carnival serta lomba Parau Panjang. Ajang ini diproyeksikan menjadi panggung kreasi seni budaya sekaligus penggerak roda ekonomi bagi para perajin dan pelaku usaha mikro di Berau.

“Tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi kita juga membuka ruang partisipasi masyarakat dan menampilkan kekayaan budaya lokal Berau,” tutur Yudha.

Melalui pendekatan ini, Pemkab Berau berhasil membuktikan bahwa esensi dari peringatan hari jadi daerah bukanlah seberapa megah seremoni yang digelar, melainkan seberapa erat kebersamaan dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel