PMI Berau Perketat Seleksi Pendonor, Tak Semua yang Datang Bisa Donor Darah

TANJUNG REDEB – Tidak semua orang yang datang untuk mendonorkan darah bisa langsung dilayani. PMI Berau menerapkan pemeriksaan berlapis untuk memastikan pendonor dalam kondisi sehat sekaligus menjaga keamanan darah yang akan diberikan kepada pasien.

Dokter Andika Amran dari PMI Berau mengatakan, proses seleksi pendonor dilakukan secara ketat, mulai dari pemeriksaan kondisi kesehatan, kadar hemoglobin (Hb), tekanan darah, hingga skrining penyakit menular.

Menurutnya, pendonor yang tidak memenuhi persyaratan akan ditolak meskipun memiliki niat membantu pasien yang membutuhkan darah.

“Kalau tidak memenuhi syarat, tetap kami tolak. Keselamatan pendonor dan pasien harus menjadi prioritas,” tegas Andika.

Ia menjelaskan, pemeriksaan awal mencakup kondisi kesehatan pendonor, termasuk riwayat pengobatan dan tekanan darah. Selanjutnya, petugas memeriksa kadar Hb untuk memastikan pendonor memenuhi persyaratan.

“Pemeriksaan juga dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular yang dapat membahayakan penerima transfus,” ujarnya

Andika menyebut, skrining yang dilakukan mencakup HIV, hepatitis B melalui pemeriksaan HBsAg, dan sifilis. Pemeriksaan malaria juga menjadi perhatian karena Berau termasuk wilayah endemis.

Menurutnya, darah yang terkumpul tidak boleh langsung dianggap aman hanya karena pendonornya terlihat sehat. Pemeriksaan tetap diperlukan untuk meminimalkan risiko penularan penyakit melalui transfusi.

“Pendonor harus sehat, darahnya harus melalui pemeriksaan, dan pasien yang menerima juga harus mendapatkan darah yang aman,” ujarnya.

Andika mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mendonorkan darah ketika kondisi tubuh tidak memenuhi persyaratan.
Niat membantu pasien memang penting, tetapi keselamatan pendonor juga harus diperhatikan. Memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan dapat menimbulkan risiko bagi pendonor sendiri.

Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang baru mendonorkan darah ketika ada kegiatan tertentu atau saat keluarga membutuhkan transfusi.

Padahal, kebutuhan darah berlangsung setiap hari dan tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, partisipasi pendonor sukarela secara rutin sangat dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan stok.

“Donor darah tidak perlu menunggu ada keluarga yang sakit. Kalau kondisi sehat dan memenuhi syarat, mari donor secara sukarela,” jelasnya.

Andika berharap kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah terus meningkat. Dengan pendonor yang rutin dan proses skrining yang ketat, kebutuhan darah di Berau diharapkan dapat terpenuhi tanpa mengabaikan keselamatan pendonor maupun pasien.(Akm)

Bagikan

Subscribe to Our Channel