Langkah Kecil untuk Tujuan Besar: Pilah Sampah Hempas Stunting Warga Kelurahan Baru Ilir

Pemilahan sampah di Bank Sampah Askit dilakukan oleh kader pada Rabu (4/11/2026). Usai dipilah berdasarkan jenisnya, sampah yang ada tinggal menunggu dijemput oleh pengepul.

STUNTING bukan permasalahan baru. Bahkan, ini masih menjadi pekerjaan rumah di setiap daerah di Indonesia. Sayangnya, bagi masyarakat, mengucapkan kata stunting saja masih menjadi hal tabu yang malu diungkapkan. Namun, di salah satu daerah di Balikpapan Barat, stigma ini diubah menjadi sesuatu yang menarik, yakni masyarakat diajak bergandengan tangan menjadi garda terdepan menuntaskan permasalahan stunting. Bagaimana caranya?

Bermula dari lingkungan yang sehat dan menyenangkan, anak juga akan merasa nyaman melakukan aktivitas dan aktif bergerak hingga mengkonsumsi makanan. Poin ini yang kemudian dilihat dan dibidik warga di Komplek Asrama Bukit Kelurahan Baru Ilir Kecamatan Balikpapan Barat, sebagai fokus utama memulai langkah menuntaskan stunting.

Tumpukan sampah yang bagi sebagian orang tak bernilai bahkan dibuang begitu saja, disulap menjadi cuan oleh warga di kampung ini. Bukan tanpa alasan, sampah-sampah yang mayoritas merupakan an organik ini dipilah berdasarkan jenisnya, untuk kemudian dijual. Hasilnya? Untuk membiayai operasional jalannya program lain yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Posyandu dan Hidroponik, adalah dua program lainnya yang berjalan di komplek asrama ini.

Matahari masih tampak malu-malu menunjukkan sinarnya. Waktu pun masih menunjukkan pukul 07.00 Wita, sejak pintu bank sampah di salah satu RT di kampung itu mulai terbuka. Terlihat sampah kardus, botol plastik air mineral dan beberapa sampah rumah tangga lainnya seperti blowing dan kaleng, sudah nangkring rapi di dalam bangunan permanen berukuran sekitar 10 meter persegi yang merupakan hibah dari warga sekitar.

Sampah-sampah kering yang berasal dari setoran warga sekitar itu ternyata sudah disortir dan siap dijemput pengepul. Sedangkan untuk sampah basah atau organik sisa makanan dan lainnya, diletakkan dalam bak sampah komposter khusus yang tersedia di lima RT yakni RT 10, 11, 12, 14 dan RT 63.

Ada total 10 komposter yang tersebar. Dan semuanya merupakan bantuan dari Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan. Dengan sistem pemilahan dan komposter itu, jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah (TPS) berkurang drastis.

Sampah yang terkumpul di bank sampah itu akan ditimbang sebulan sekali. Dengan sistem bagi hasil antara bank sampah dan warga dengan angka 70:30, masyarakat sekitar juga diuntungkan dengan penghasilan meskipun masih skala kecil.

“Total sampah yang terkumpul setiap bulannya kurang lebih 41 sampai 51 kilogram, yang kemudian diambil pengepul setiap 2 atau 3 bulan. Jadi per 3 bulan itu kurang lebih sekitar 150 kilo jumlahnya,” beber salah satu pengelola bank sampah Askit, Ninuk ketika ditemui di sela-sela peninjauan bersama para wartawan se-Kalimantan Timur, Rabu (4/11/2026).

Berawal dari 2018 lalu, bank sampah yang berjalan sampai saat ini dengan 10 orang pengelola, ternyata memberikan efek domino. Selain lingkungan yang semakin bersih, penghasilan warga sekitar bertambah, ternyata juga membentuk lingkungan menyenangkan bagi anak-anak.

“Untuk penghasilan warga khususnya yang sudah bergabung sebagai nasabah bank sampah saat ini sebanyak 59 orang, itu naik turun, mengikuti harga beli dari pengepul. Kalau harga kardus biasanya di Rp1.900, itu juga kadang turun,” tambah Ninuk.

Selain bank sampah, program ketahanan pangan yang sedang berjalan saat ini di Kelurahan Baru Ilir adalah kebun hidroponik. Beragam jenis sayuran menjadi tanaman utama yang dikembangkan di kebun bersama itu.

Meskipun baru berukuran sekitar 100 meter luasnya, lahan di samping posyandu Mawar Harum disulap menjadi lokasi tanam Sawi, Pakcoy, Bayam, jagung, cabai dan tomat. Menariknya, warga sekitar yang berdomisili di sekitar, sering memanfaatkan kebun kecil itu bahkan memanen tanaman yang ada, sembari membawa buah hatinya ke posyandu.

“Jenis sayuran yang kami tanam ini khususnya untuk cabai dan tomat itu sebenarnya sebagai uji coba, karena nutrisinya berbeda dengan nutrisi daun,” ungkap Ketua Hidroponik Posyandu Mawar Harum, Siti Suryani yang juga ditemui di lokasi.

Dengan jumlah kader 16 orang yang keseluruhannya merupakan ibu rumah tangga, kebun hidroponik ini juga melibatkan lansia, agar mereka juga memiliki kesibukan dan ikut merawat tanaman yang ada.

Meskipun sudah menghasilkan, namun selama perjalanannya pun tak luput dari kendala. Salah satunya yakni kondisi mati listrik. Karena tanaman yang menggunakan sistem tanam hidroponik ini sangat bergantung dengan mesin penyalur air.

“Jadi saat mati listrik, mesin hidroponiknya yang mengalirkan air juga ikut mati. Kalau berlangsung lama, bisa-bisa tanaman kekurangan air dan akan mati,” tambahnya.

Posyandu Mawar Harum sebagai pusat utama program penurunan stunting di Kelurahan Baru Ilir pun tak lepas dari fokus. Dengan jumlah kader 5 orang dan 3 nakes dari puskesmas yang rutin mengontrol kegiatan, hingga Oktober 2026 ini, posyandu sudah menangani 26 Balita dan 2 lansia.

“Termasuk untuk program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Balita, juga sudah berjalan. Dan ini menjadi fokus untuk mengurangi angka anak stunting di kelurahan kami,” ucap salah satu kader Posyandu Mawar Harum, Helmi Suciati.

Bergelut sebagai kader posyandu sejak 2020 lalu, perempuan akrab disapa Helmi ini memang sangat menyukai anak-anak. Bahkan, dirinya menyebut sudah beberapa kali mendatangi ibu dan anak di rumah masing-masing, hanya untuk mengajak datang ke posyandu. Hal ini dilakukannya secara sukarela lantaran ingin melihat semua anak di komplek yang juga menjadi tempat tinggalnya itu, bisa sehat.

Tak jarang, edukasi dari rumah ke rumah hingga paparan menu PMT yang diberikan secara kontinyu ke Balita juga dishare secara rutin di grup whatssapp khusus para kader, nakes dan anggota posyandu yang rutin membawa periksa anaknya.

“Kadang ada juga yang menolak untuk diajak, tapi setelah kita edukasi akhirnya mereka mengerti. Karena pada dasarnya kesehatan anak, awal mula bisa terlihat dari hasil pemeriksaan, penimbangan dan pengukuran di posyandu,” imbuh ibu dua anak ini.

Terpisah, salah satu warga RT.12 Kelurahan Baru Ilir yang ditemui, Lilis Juartati yang juga menjadi nasabah bank sampah dan pengelola kebun hidroponik, mengungkapkan perasaan bahagianya, ketika mengetahui adanya kegiatan itu di sekitar tempat tinggalnya.

Dengan bekal pelatihan yang diikutinya bersama kader lainnya, Lilis dan suami mulai membantu merawat kebun hidroponik yang ada. Selain itu, di sela-sela kesibukannya, Lilis juga membantu para kader posyandu saat kegiatan penimbangan berlangsung.

“Sebagai ibu rumah tangga, saya juga ikut terdaftar sebagai nasabah bank sampah. Justru sangat terbantu dengan adanya program itu karena sampah terpilah dengan baik, lingkungan bersih dan cucu-cucu saya bahagia bermain di sekitar rumah. Selain itu, makanan yang diolah dari hasil panen kebun hidroponik, juga lebih sehat,” ucapnya.

Lilis berharap, program yang berjalan dari Pertamina bisa berlangsung secara kontinyu. Pasalnya, kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah makin meningkat, dan keinginan untuk membawa buah hatinya ke posyandu juga bertambah.

Bagikan

Subscribe to Our Channel