TANJUNG REDEB – Komisi I DPRD Berau mendorong pembenahan menyeluruh di RSUD dr Abdul Rivai, terutama pada aspek manajemen dan pengelolaan anggaran, dalam rapat dengar pendapat (RDP) pembahasan LKPj Tahun Anggaran 2025, Senin (13/4/2026).
Dalam forum tersebut, dewan menilai berbagai persoalan yang mencuat, mulai dari kekosongan obat hingga beban utang rumah sakit, menunjukkan perlunya langkah evaluasi serius.
Anggota Komisi I DPRD Berau, Waris, menegaskan pelayanan dasar seperti ketersediaan obat harus menjadi prioritas utama.
“Obat itu tidak boleh kosong,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator penting dalam menilai kinerja manajemen rumah sakit, termasuk dalam mengelola anggaran dan distribusi layanan kesehatan.
DPRD pun mendorong adanya evaluasi menyeluruh, bahkan membuka opsi perbaikan struktur manajemen guna memastikan pelayanan berjalan optimal.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyoroti belum maksimalnya serapan anggaran rumah sakit. Dari total anggaran sekitar Rp210 miliar, masih terdapat sisa lebih penggunaan anggaran (SiLPA) di tengah keluhan pelayanan.
“Kenapa tidak terealisasi maksimal, masih ada SiLPA, tapi di sisi lain muncul keluhan obat kosong. Ini yang ingin kita dalami,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini perlu dikaji lebih dalam agar ke depan perencanaan dan realisasi anggaran bisa lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, pihak RSUD melalui Kabag TU, Sarengat, menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi dipengaruhi turunnya tipe rumah sakit yang awalnya C menjadi D, termasuk lonjakan kebutuhan obat serta penurunan pendapatan akibat perubahan status pembayaran BPJS.
“Saat ini status sudah normal,” ujarnya.
Selain itu, beban utang pengadaan obat yang sempat menembus lebih dari Rp10 miliar turut memengaruhi kelancaran distribusi. Saat ini, sebagian kewajiban tersebut telah dibayarkan dan kondisi keuangan mulai membaik. Tak hanya itu, beban pembiayaan pembangunan Gedung Walet turut mempersempit ruang fiskal rumah sakit.
“Utang sudah dibayarkan sebesar Rp 5,5 miliar,” ungkapnya.
Pihak manajemen juga memastikan distribusi obat telah kembali normal dan pelayanan kepada pasien berjalan tanpa kendala.
“Sekarang sudah tidak ada kendala,” pungkasnya. (Akm)













