TANJUNG REDEB – Kesabaran warga RT 17 Kelurahan Gunung Tabur sepertinya sudah berada di puncaknya. Tak kunjung mendapatkan solusi terkait permasalahan akses pendidikan hingga tapal batas, mereka pun menyampaikan keluhan itu kepada para wakil rakyat.
Gayung bersambut, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Berau, Senin (18/5/2026), persoalan pendidikan, penerangan, telekomunikasi, air bersih hingga tapal batas wilayah menjadi pembahasan utama dalam pertemuan tersebut.
Ketua RT 17 Gunung Tabur, Fadly, mengatakan kondisi pendidikan di wilayahnya sangat memprihatinkan. Saat ini, puluhan siswa terpaksa menumpang belajar di rumah warga karena belum memiliki fasilitas sekolah yang layak.
“Kami mengejar kesejahteraan terutama pendidikan. Saat ini kami sangat prihatin, karena anak-anak kami dari 54 siswa kelas 1 sampai kelas 6 masih numpang sekolah di rumah-rumah warga,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera menyediakan tempat belajar yang layak bagi anak-anak di RT 17.
Selain pendidikan, ia juga mengeluhkan belum tersentuhnya fasilitas dasar seperti penerangan, jaringan telekomunikasi dan air bersih.
“Itu terkait penerangan, telekomunikasi termasuk semua. Dari jaringan dan penerangan kami belum tersentuh juga di sana,” katanya.
Fadly menjelaskan, RT 17 merupakan kawasan eks-KAT (Komunitas Adat Terpencil). Namun status itu disebut sudah tidak berlaku lagi karena program KAT hanya diperuntukkan selama tiga tahun.
“RT 17 ini eks-KAT lagi, tidak ada KAT lagi. Setelah tiga tahun warga wajib mandiri. Makanya sekarang masuk RT 17 Kelurahan Gunung Tabur,” jelasnya.
Dalam RDP tersebut, persoalan tapal batas wilayah antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara juga ikut dibahas. Fadly menilai belum jelasnya batas wilayah, mengganggu administrasi pemerintahan di tingkat RT.
“Tapal batas juga menjadi pembahasan. Kami selaku pemerintah setempat sangat merasa terganggu apabila tapal batas itu belum ada,” ungkapnya.
Ia menyebut persoalan itu berkaitan dengan batas wilayah antara Kabupaten Berau, Kalimantan Timur dengan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. (Man)













