Gedung Bioskop Teluk Bayur Bakal Jadi Panggung Komunitas Teater

TANJUNG REDEB — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau terus berupaya membangkitkan ekonomi kreatif dan seni pertunjukan daerah.
Salah satu langkah strategis yang tengah dijajaki adalah memanfaatkannya kembali Gedung Bioskop tua di Jalan Kamar Bola, Teluk Bayur, sebagai panggung pertunjukan sekaligus rumah baru bagi komunitas teater di Kabupaten Berau.
Langkah ini diambil guna memberikan wadah yang layak dan representatif bagi para seniman muda teater yang selama ini dinilai telah mengalami perkembangan pesat.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa mengungkapkan bahwa teater di Berau telah menunjukkan konsistensi yang luar biasa melalui berbagai pementasan dan festival. Namun, potensi besar tersebut perlu ditunjang oleh sarana panggung pertunjukan yang memadai.
“Di Teluk Bayur sekarang ada gedung yang namanya gedung bioskop. Coba nanti kita cek ke sana, bisa tidak itu untuk menampilkan teater. Kalau ada cerita yang menarik, kita tampilkan di sana. Kita promosikan ini teater kami dari Berau,” ujar Yudha saat menutup event Darma Festival Teater beberapa waktu lalu di Busak Malur.
Menurutnya, gedung bioskop bersejarah di Teluk Bayur tersebut memiliki kapasitas tempat duduk yang cukup memadai, yakni mencapai sekitar 190 penonton. Fasilitas ini dinilai sangat potensial untuk dijadikan sarana pertunjukan rutin berbayar.
Pemanfaatan gedung bioskop ini diharapkan dapat menjadi solusi atas tantangan yang kerap dihadapi komunitas seni, seperti keterbatasan tempat pertunjukan hingga sulitnya mendapatkan dukungan sponsor. Dengan adanya wadah pertunjukan tetap, komunitas teater dapat mengemas karya secara mandiri dan profesional.
“Ini bisa menampung lebih banyak penonton, tempat duduknya itu ada ratusan. Kita coba nanti di gedung itu untuk mengekspresikan seni teater Kabupaten Berau,” tambahnya.
Selain menyediakan tempat, Disbudpar juga mendorong para pegiat teater, untuk menggali narasi sejarah lokal dan cerita rakyat Berau sebagai bahan pementasan.
Yudha mencontohkan bagaimana sejarah teater sejak zaman Romawi Kuno mampu menciptakan karya-karya klasik yang mendunia karena digarap secara total dan profesional.
“Coba kita menggali cerita-cerita untuk kita hubungkan dengan sejarah kerajaan dan sebagainya. Kita diskusi, kira-kira cerita apa yang menarik untuk kita tampilkan. Dengan cara seperti itu, orang semakin banyak mengenal dan tahu bagaimana kualitas seni teater di Kabupaten Berau,” tutupnya. (Ard)




















