Modernisasi Tak Gerus Ritual Budaya Baturunan Parau di Berau

GUNUNG TABUR – Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Berau masih merawat satu tradisi leluhur yang menyimpan potensi raksasa.
Baturunan Parau, adalah ritual penurunan perahu ke air yang bukan sekadar seremoni mistis atau hiburan visual, melainkan sebuah manifestasi utuh dari nilai kebersamaan, gotong royong, dan modal sosial yang kini dilirik menjadi komoditas pariwisata baru.
Selama ini Berau identik dengan destinasi bahari kelas dunia seperti Derawan atau Maratua. Padahal, kekayaan budaya seperti Baturunan Parau berpeluang besar mengisi celah wisata berbasis warisan budaya (cultural heritage tourism).
Prosesinya yang terstruktur, mulai dari menapung tawar, pembuatan perahu, hingga detik-detik peluncuran ke sungai, menawarkan pengalaman autentik yang dicari wisatawan modern.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan bahwa daya tarik utama tradisi ini justru terletak pada interaksi manusianya.
“Ini bukan semata hanya kita lihat sebuah tradisi lokal dan lama, tapi juga lebih dari itu. Kita bisa mempersatukan masyarakat, berkumpul, bersilaturahmi,” ungkap Gamalis, ditemui usai prosesi adat Baturunan Parau Gunung Tabur, Sabtu (19/9).
Nilai jual wisata ini yang paling menarik adalah, di era ketika interaksi sosial makin terkikis, Baturunan Parau menyuguhkan pemandangan kontras.
Dimana puluhan hingga ratusan orang bahu-membahu menyatukan tenaga fisik demi menurunkan sebuah perahu.
Nilai persatuan dan gotong royong inilah yang menjadi jiwa dari Baturunan Parau. Jika dikelola dengan regulasi yang tepat, tradisi ini tak hanya memperkuat ikatan sosial warga lokal, tetapi juga menjadi daya pikat kebudayaan yang bernilai jual tinggi. (ADV/Ard)




















