TANJUNG REDEB – Bencana banjir yang kerap datang secara tiba-tiba serta fenomena cuaca yang sulit diprediksi, menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian di Berau.
Tak hanya itu, sistem perencanaan anggaran yang disusun jauh hari membuat bantuan untuk petani yang terdampak juga tidak bisa langsung disalurkan saat bencana terjadi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Suwardi Lattas, menjelaskan bahwa bantuan pertanian tidak dapat diberikan secara langsung, karena harus melalui mekanisme perencanaan dan penganggaran tahunan.
“Anggaran itu disusun satu tahun sebelumnya. Jadi bukan ketika banjir langsung ada bantuan,” ujar Suwardi saat ditemui Selasa (23/12).
Ia menegaskan, bidang tanaman pangan tidak memiliki stok cadangan seperti benih maupun sarana produksi yang bisa langsung dibagikan saat terjadi banjir. Menurutnya, bantuan pertanian biasanya disalurkan berdasarkan usulan dan kebutuhan yang telah direncanakan sebelumnya.
“Kalau kami tidak punya stok. Kalau memang ada bantuan, itu sesuai permintaan petani dan program pembangunan yang sudah disusun,” tegasnya.
Kondisi ini membuat peran antisipasi menjadi sangat penting. Suwardi menyebut, pihaknya lebih fokus pada upaya pencegahan dengan menyesuaikan waktu tanam dan panen berdasarkan kondisi cuaca.
“Kalau curah hujan masih tinggi, sebaiknya petani menunda tanam. Kalau tanaman sudah tua dan air mulai naik, ya cepat-cepat dipanen,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengakui keterbatasan ini menjadi PR ke depannya, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang membuat fenomena cuaca semakin sulit diprediksi. “Banjir ini faktor alam, kami tidak punya kuasa untuk mengendalikannya. Yang bisa kami lakukan adalah mengantisipasi dan mendampingi para petani,” pungkasnya. (Ta)













