Dua Siswa SMPIT Ash Shohwah Taklukkan Kaltim, Siap Gebrak Panggung Nasional

TANJUNG REDEB — Menyeimbangkan antara padatnya jadwal sekolah reguler, kegiatan keislaman, dan latihan olimpiade yang menguras pikiran tentu bukan perkara mudah.
Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh dua siswa SMPIT Ash Shohwah Berau, Alfarizy Rayhan Farras dan Nikmah Zulfa Ramadhanie.
Keduanya baru saja mengharumkan nama sekolahnya, setelah sukses menyabet Juara 1 Olimpiade Matematika dan Sains dalam ajang Islamic Youth Festival tingkat wilayah Kalimantan Timur 2026, yang sekaligus mengamankan tiket menuju kompetisi tingkat nasional.
Di balik trofi juara tersebut, tersimpan proses panjang yang tidak instan. Kepala SMPIT Ash Shohwah Berau, Hamidah Sahara, mengungkapkan bahwa kedua siswanya harus menjalani program latihan intensif selama beberapa minggu.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana melatih pola pikir siswa agar tidak hanya paham materi kelas reguler, melainkan mampu menaklukkan tipe soal olimpiade tingkat tinggi yang menuntut penalaran kritis dan analitis.
“Tantangan terbesar adalah mengembangkan kemampuan siswa agar tidak hanya memahami materi reguler, tetapi juga mampu menyelesaikan persoalan olimpiade yang membutuhkan penalaran lebih mendalam,” ujar Hamidah.
Sebagai sekolah berbasis Islam terpadu, rutinitas harian siswa SMPIT Ash Shohwah tidak hanya diisi dengan pelajaran umum, melainkan juga kegiatan keislaman yang menjadi pilar utama pembentukan karakter.
Hal ini, menurut Hamidah, menuntut Alfarizy dan Nikmah memiliki kedisiplinan tingkat tinggi. Keduanya dituntut jeli membagi waktu secara proporsional antara pembinaan khusus kompetisi bersama para guru pembimbing, kewajiban pembelajaran reguler di kelas, serta agenda kegiatan keislaman harian sekolah.
Tak ingin cepat puas dengan gelar juara tingkat wilayah, pihak sekolah kini langsung mengalihkan fokus untuk menghadapi persaingan di tingkat nasional.
Sejumlah strategi matang telah disiapkan, di antaranya pendalaman materi lanjutan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Simulasi kompetisi ketat yang dilengkapi dengan batasan waktu guna melatih mental serta kecepatan berpikir.
Pemetaan kemampuan siswa secara berkala untuk mendeteksi materi apa saja yang sudah dikuasai, dan bagian yang masih perlu penguatan.
Hamidah juga menekankan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari sinergi kuat antara pihak sekolah, dedikasi guru pembimbing, serta dukungan penuh dari orang tu, baik dari segi fasilitas belajar maupun moril.
Pihak sekolah berharap, kesuksesan Alfarizy dan Nikmah ini dapat menjadi pemantik semangat bagi ratusan siswa lainnya di Berau untuk berani bermimpi besar, keluar dari zona nyaman, serta memaksimalkan potensi terbaik yang dimiliki. (*/Ard)




















