Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat, Efektivitas Belajar Mengajar Dipertanyakan

TANJUNG REDEB – Meskipun sempat membaik di kategori sedang beberapa hari lalu, namun sejak Rabu (16/9) hingga Kamis (17/9) siang, kualitas udara di Kabupaten Berau masuk dalam kategori tidak sehat – sangat tidak sehat.
Dua Puskesmas yakni Tanjung Redeb dan Kampung Bugis yang melakukan pengukuran, mendapati hasil yang sama. Hasil pemantauan UPTD Puskesmas Kampung Bugis pada Kamis pagi mencatat konsentrasi partikulat udara berada pada level sangat tinggi.
Pengukuran yang dilakukan pukul 08.21 WITA mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 340 µg/m³, sedangkan PM10 menembus 1.100 µg/m³.
Selain itu, suhu udara tercatat 32,12 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 65,5 persen RH.
UPTD Puskesmas Kampung Bugis menyampaikan hasil pemantauan tersebut kepada pihak Kelurahan Gayam sebagai bagian dari informasi kondisi kualitas udara di wilayah setempat.
Berdasarkan hasil pengukuran, konsentrasi partikulat PM2.5 dan PM10 berada pada kategori Sangat Tidak Sehat/Berbahaya.
Sedangkan di puskesmas Tanjung Redeb juga mendapati hasil serupa. Bahkan, semua aktivitas luar ruangan yang melibatkan usia anak-anak dan lansia seperti Posyandu, masih ditiadakan sampai hari ini.
Tingginya konsentrasi partikulat menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Berau.
Kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan. Pengurangan aktivitas di luar ruangan dan penggunaan masker dapat menjadi langkah pencegahan saat kualitas udara memburuk.
Namun, kembali memburuknya kualitas udara itu justru menjadi perhatian masyarakat, lantaran proses belajar mengajar di sekolah yang notabenenya melibatkan anak-anak, masih tetap berlangsung.
“Kita yang dewasa berada di luar ruangan sebentar saja sudah perih mata, bagaimana dengan anak-anak? Mungkin sebaiknya dipertimbangkan kembali sistem pembelajaran sebelumnya mengingat kondisi kesehatan yang rentan,” ucap Kiki Lestari, salah satu wali murid SD Negeri di Tanjung Redeb.
Senada, Erna juga menyebut jika penggunaan masker untuk anak juga belum tentu efektif. Mengingat kebiasaan anak-anak dalam usia yang masih sangat aktif bermain.
“Kita saja kadang merasa sesak kalau seharian pakai masker, apalagi anak-anak kan,” ucapnya. (Ard)




















