Follow kami di google berita

Kasus HIV di Berau Terus Meningkat Sejak Tiga Tahun terakhir

TANJUNG REDEB – Jumlah kasus HIV di Kabupaten Berau tercatat mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir, sejak 2023 hingga 2025. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau menegaskan kenaikan tersebut tidak selalu mencerminkan memburuknya kondisi kesehatan masyarakat, melainkan sejalan dengan meningkatnya jumlah warga yang menjalani pemeriksaan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Lamlay Sarie, melalui Wakil Supervisor/Pengelola Program P2-HIV, Andy Nuriyanto, mengungkapkan berdasarkan data statistik, kasus HIV di Berau pada 2023 tercatat sebanyak 77 kasus. Angka tersebut naik menjadi 80 kasus pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 87 kasus pada 2025.

“Secara statistik memang ada peningkatan setiap tahun. Namun dengan pendekatan program kesehatan, penemuan kasus yang meningkat justru menunjukkan bahwa upaya skrining berjalan dengan baik,” ujarnya saat ditemui, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan angka kasus berkorelasi langsung dengan bertambahnya jumlah orang yang diperiksa. Pada 2024, jumlah warga yang menjalani tes HIV sekitar 5.900 orang, sementara pada 2025 meningkat menjadi lebih dari 6.800 orang.

“Semakin banyak yang diperiksa, maka semakin banyak kasus yang ditemukan. Ini berarti kesadaran masyarakat untuk melakukan tes juga semakin baik,” jelasnya.

Menurut Andy, deteksi dini sangat penting dalam pengendalian HIV. Dengan mengetahui status sejak awal, upaya pencegahan penularan serta pengobatan dapat segera dilakukan sehingga risiko penularan ke orang lain bisa ditekan.

Ia menambahkan, pasien HIV yang rutin dan patuh menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga berada pada kondisi (Undetectable) atau tidak terdeteksi. Dalam kondisi tersebut, risiko penularan kepada orang lain menjadi sangat kecil bahkan tidak menular (Untransmittable).

“Selama pasien minum ARV secara rutin dan terkontrol, virusnya bisa ditekan sampai tidak terdeteksi. Kalau sudah undetectable, maka secara medis tidak menularkan,” terangnya.

Oleh karena itu, Dinkes Berau menekankan pentingnya pemeriksaan dini yang diikuti dengan kepatuhan pengobatan. Dengan perluasan skrining dan keberlanjutan terapi ARV, diharapkan meskipun cakupan pemeriksaan meningkat, jumlah kasus baru dapat ditekan secara signifikan.(man)

Bagikan

Subscribe to Our Channel