Dari Kebun Nyaris Redup hingga Panen Melimpah: Kisah Petani Berau Sulap Kakao Jadi Penopang Ekonomi Baru

TANJUNG REDEB – Potensi komoditas lokal di Kabupaten Berau kian menunjukkan taringnya. Di tengah upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, sektor perkebunan kakao kini bangkit menjadi secercah harapan baru bagi ratusan petani lokal.

Melalui tangan dingin PT Berau Coal bersama Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC), mimpi petani untuk mendulang hasil panen berkualitas kini bukan sekadar angan.

Sejak dijalankan secara terarah pada 2024, program ini telah merangkul sebanyak 1.290 petani kakao, mencakup pendampingan bagi petani baru hingga penyelamatan kebun-kebun lama yang sebelumnya terbengkalai.

Periode Januari hingga Oktober 2026 menjadi saksi bagaimana ribuan petani ini bertransformasi menjadi pengelola kebun modern yang mengandalkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP).

Bagi para petani baru, langkah awal dimulai dari bangku “Sekolah Lapang”. Di sini, mereka digembleng ilmu dasar budidaya, mulai dari teknik penanaman hingga pemeliharaan yang tepat. Tak hanya teori, peserta langsung dibekali dukungan nyata berupa bibit kakao bersertifikat, bibit tanaman penaung, pupuk, hingga dolomit.

Pendekatan serupa juga menyasar para petani senior yang kebunnya mulai meredup akibat usia tanaman atau minimnya perawatan. Melalui program rehabilitasi, kebun-kebun lama disulap kembali produktif lewat teknik peremajaan seperti teknik sambung samping.

Hal inilah yang dirasakan langsung oleh Agustinus Burman bersama istrinya, Isadora, petani kakao asal Kampung Suaran yang telah bergelut dengan tanaman ini sejak 2010. Mengikuti program rehabilitasi membuka mata mereka bahwa merawat kakao membutuhkan ilmu, bukan sekadar menanam.

“Program ini sangat bagus dan membantu meningkatkan kualitas kebun kami. Kami mendapatkan ilmu baru tentang cara merawat kakao, termasuk teknik sambung samping. Harapannya, Berau Coal dapat terus mendampingi kami,” tutur Isadora penuh antusias.

Senada dengan Isadora, Ferdinandus Seman (49) turut merasakan angin segar di tengah tantangan biaya operasional kebun. Berkat dukungan sarana produksi pertanian (saprodi), pupuk, serta bimbingan langsung dari tim YDBBC, beban petani kian terasa ringan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Berau Coal atas bantuan yang diberikan. Saya sangat bersyukur karena bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Kalau harus membeli sendiri, biayanya juga lumayan,” ungkap Ferdinandus.

Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menegaskan bahwa pengembangan komoditas kakao dirancang bukan sekadar memberi bantuan sesaat, melainkan membangun kemandirian jangka panjang berbasis potensi lokal.

“Melalui program ini, kami ingin mendukung petani agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola kebun kakao,” ujar Reza.

Ia menambahkan, kunci keberhasilan program ini terletak pada keterlibatan aktif petani itu sendiri. Dengan mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam pengelolaan sehari-hari, produktivitas dan kualitas hasil panen di Kabupaten Berau diyakini akan terus meroket.

Langkah nyata PT Berau Coal dan YDBBC ini membuktikan, bahwa sinergi antara perusahaan dan masyarakat mampu menggerakkan roda ekonomi daerah dari akar rumput, menjadikan biji-biji kakao Berau siap menembus standar kualitas yang lebih tinggi di masa depan. (ADV)

Bagikan

Subscribe to Our Channel