Surplus Tapi Pasokan Pakan di Peternak Kurang Ditengarai Karena Sebagian Petani Jual ke Luar Daerah

A-News.id, Berau – Menyikapi dilema seputar kondisi kebutuhan komoditi jagung sebagai pakan ternak yang masih kekurangan di Kabupaten Berau, di tengah surplus hasil produksi jagung petani, Kabid Perdagangan Diskoperindag Kebupaten Berau, Fitriansyah, Rabu (13/10) mengatakan antara peternak ayam dengan komoditi jagung suplaiinya ini tidak seimbang.

“Permintaan banyak, jagung kita untuk pakan ini minus, tapi kalau melihat dengan data yang ada di Berau bahwa jagung ini kita surplus, tapi kenyataannya bahwa itu masih kurang untuk wilayah Berau. Dari Kementerian juga kita mendapatkan surat untuk menggenjot agar harga kebutuhan pakan di tingkat petani sebesar Rp. 4.200 sampai Rp. 5.000,- per kg. Di sini sentranya ada 2, di Biatan dan Talisayan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri meminta data stok produksi dan harga jagung untuk pemenuhan kebutuhan jagung pakan bagi peternak mandiri sebagaimana arahan Presiden RI pada 15 September 2021 lalu serta menindaklanjuti Hasil Rakornas Tingkat Menteri pada 22 September dimana Perum Bulog ditugaskan untuk pengadaan jagung dari dalam negeri sebanyak 30.000 ton yang akan didistribusikan kepada peternak mandiri dengan harga Rp 4.500/kg sesuai Permendag No. 17 Tahun 2020.

Untuk itu Dirjen Perdagangan Dalam Negeri meminta agar Dinas Perdagangan di 11 provinsi, termasuk Kalimantan Timur dan Dinas Perdagangan di 20 kabupaten/kota, termasuk Berau untuk berkoordinasi dengan Divre/Sub Diivre Perum Bulog setempat guna mengumpulkan data  dan informasi terkini terkait stok dan harga jagung dengan spesifikasi kadar air (KA) 15% di tingkat petani di daerah-daerah tersebut.

Menindaklanjuti permintaan Dirjen itu, Diskoperindag Berau, terang Fitriansyah, sudah mengumpulkan dan menginformasikan data tersebut, yang berasal dari 2 sentra jagung di Berau, yaitu di Talisayan dari Gapoktan Eka Sapta (Hj. Suryana) memiliki stok 20 ton dengan harga Rp. 4.200 /kg, sementara di Biatan dari Sahidan memiliki stok sebanyak 30 ton dengan harga Rp. 4.500/kg.

“Ini gak seimbang dengan produksi jagung kita, terutama peternak. Produksi jagung agar digenjot karena permintaan peternak dengan produksi jagung kita tidak seimbang. Memang surplus di data tetapi menurut informasi dari peternak itu masih kurang,” ujarnya.

Fitriansyah mengatakan informasi dari peternak kurang suplai untuk pakan, bahkan mereka sampai membeli keluar.

Sementara dari konfirmasi ANews ke Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, Kamis, 14 /10/2021, Saleh, Kasi Produksi Distanak mengatakan bahwa unit Fasilitas Pengering jagung yang ada di Biatan Ilir dan di Talisayan, merupakan pengering dari bonggol jagung basah sehabis panen yang dikeringkan kadar airnya dengan dimasukkan ke alat pengering itu untuk mendapatkan kadar air yang diharapkan (KA) 15%.

Terkait terjadinya permasalahan antara ketersediaan stok dan permintaan pembeli yang tidak paralel dengan data yang ada, Saleh menjelaskan bahwa pada tahun 2019 lalu pernah dilaksanakan pertemuan yang difasilitasi Bidang Bina Usaha Distanak Berau mempertemukan antara pembeli, peternak dan petani juga ada dari Bulog  di Kampung Eka Sapta, Talisayan untuk membicarakan kesepakatan harga jual di tingkat petani yang mesti dibeli oleh peternak, namun tidak ditemukan kesepakatan harga pada waktu itu, akhirnya tidak sepakat.

Setelah itu, lanjut Saleh, masuk ke pasar bebas, jadi ada peternak yang mengambil dari luar karena harganya murah, sementara kita surplus produksi jagung bahkan termasuk penyumbang terbesar di Kaltim.

“Disini sempat harganya Rp. 5.000/kg, petani senang aja,  tapi karena waktu itu produksinya belum besar, makanya sedikit-sedikit saja yang dijual, kalau sampai Oktober ini panennya besar. Nah ini karena sudah dipantau pusat, disuruhlah Bulog untuk membeli untuk menyerap produksi petani mungkin dengan harga yang standard, nanti dari Bulog menjual ke peternak-peternak,” ujar Saleh.

Ditambahkan Saleh, bahwa Bulog sudah 2 kali ketemu dengan Kepala bidang kaitannya dengan itu, mau membicarakan terkait menyerap produksi petani, nanti dari Bulog menjual ke peternak-peternak sesuai rencana programnya.

“Tapi ini kan belum ketemu petani. Harusnya petani sama-sama duduk membicarakan berapa harga yang disepakati, berapa ton yang harus diserap, apakah semuanya atau ada batasnya, kalau gak salah kemaren cuma 300 ton, kalau gak salah, sampai Desember,“ imbuhnya.

Saleh mengatakan 300 ton sampai Desember itu kecil dalam jumlah namun menurutnya tidak masalah, karena ada langkah-langkah ke arah itu.

Sekarang ini dengan mulai panen, harga di tingkat petani tinggal Rp 4.300/kg.

“Pas aja kalau misalnya Bulog  masuk untuk menangani ini, tinggal kesepakatan dari harga itu berapa, mungkin petani siap aja memberikan mungkin semua produksinya masuk ke dia,” kata

Kapasitas Mesin Dryer Pengering bonngol jagung  itu masih dinilai kurang bisa menyerap sebagian besar produksi petani karena kapasitasnya terbatas dimana yang  di Talisayan kapasitasnya 10 ton per hari dan di Biatan Ilir 6 ton per hari.

Hasil produksi petani itu bisa diserap Bulog dan sebagian lagi mungkin masuk ke unit pengering, namun karena ditengarai harga pembelian di unit pengering agak murah, jadi banyak juga yang menjual keluar.

Bulog diharapkan akan bisa menyerap semua hasil produksi petani dengan harga yang disepakati, yang selanjutnya akan menjual ke Asosiasi Peternak di Kabupaten Berau sehingga diharapkan tidak ada lagi kekurangan pasokan di tingkat peternak.

“Saya kira kalau Bulog bisa masuk untuk menyerap produksi petani, saya kira bagus,” tambah Saleh.

Sedangkan, Kasi Bina Usaha Distanak Berau, Wono Nugroho, SP mengatakan bahwa pembeli juga tidak hanya disini, sementara petani, di era pasar bebas ini, menginginkan penjualan dengan harga yang lebih tinggi, sehingga tidak tertutup kemungkinan banyak yang menjual ke luar daerah karena harganya lebih tinggi.

Wono Nugroho mengatakan memang sejauh ini belum ada kesepakatan patokan harga penjualan jagung di tingkat petani di Kabupaten Berau.

“Sudah sempat di 2019  pembahasan kesepakatan harga, termasuk Bulog, tapi tidak ada kesepakatan di harga, itu PR kita,” ujar Wono.

Selain itu, ditengarai banyaknya praktek ijon yang mencengkeram para petani jagung diduga berdampak terhadap produksi dijual keluar daerah oleh pengijon untuk mandapatkan harga yang tinggi.

Wono berharap pelan-pelan mencari jalan yang terbaik antara petani dan konsumen supaya berimbang.

Tahun ini juga rencananya Bulog ada pembahasan dengan Distanak untuk membahas standarisasi harga jagung di tingkat petani, pungkas Wono. (red)

Bagikan