Follow kami di google berita

Pengembangan Budidaya Rumput Laut Terganjal Kewenangan

TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau kini tengah menggenjot potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, demi menambah pundi-pundi Pemasukan Asli Daerah (PAD). Salah satunya adalah rumput laut di Kampung Karangan Kecamatan Biatan.

Budidaya rumput laut ini terus menunjukkan perkembangan positif. Bahkan hasil produksinya kini telah menembus pasar ekspor dan menjadi salah satu komoditas unggulan, dalam mendukung transformasi ekonomi masyarakat pesisir.

Sayangnya, kewenangan budidaya yang masuk di wilayah laut, kewenangannya berada di pemerintah provinsi, karena berada di area 0 hingga 12 mil laut. Sehingga Dinas Perikanan Berau hanya sebatas di peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) saja.

“Tahun ini rencananya ada lima orang pembudidaya yang akan diberangkatkan ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar untuk pelatihan peningkatan kapasitas SDM,” ungkap Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid ditemui beberapa waktu lalu.

Budidaya rumput laut ini menjadi salah satu sektor unggulan menuju hilirisasi transformasi ekonomi, dari sektor tambang menjadi sektor perikanan atau pertanian.

Ia menjelaskan, luas budidaya rumput laut di Kampung Karangan saat ini mencapai sekitar 60 hektare dengan jumlah rumah tangga perikanan sebanyak 40 orang. Dalam tiga bulan, produksi rumput laut kering mampu mencapai dua kontainer atau sekitar 40 ton.

“Kalau dihitung per tahun kurang lebih bisa mencapai 160 ton sampai 360 ton rumput laut kering,” katanya.

Majid menyebut, komoditas tersebut memiliki banyak keunggulan. Selain tidak memerlukan pakan dalam proses budidaya, rumput laut juga memiliki banyak potensi olahan mulai dari kosmetik, kesehatan hingga kebutuhan rumah tangga.

“Pasarnya juga bagus, baik lokal maupun luar negeri,” jelasnya.

Untuk harga jual di tingkat lokal, rumput laut basah dibanderol sekitar Rp5 ribu per kilogram, sementara rumput laut kering berkisar Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan untuk pasar ekspor, harganya dinilai lebih tinggi tergantung permintaan pembeli.

Adapun negara tujuan ekspor sementara ini meliputi Cina dan Hongkong. Namun pengiriman masih dilakukan melalui daerah transit seperti Tarakan, Surabaya dan Makassar. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel