Bangun Pabrik Pengolahan Porang Menjadi Produk ‘Jadi’ di Kabupaten Berau, Dinas Pertanian : Biar Expor Porang Tidak Di Monopoli

A-News.id, Tanjung Redeb – Porang saat ini menjadi komoditas expor yang mendadak booming saat ini. Porang ini menjadi salah satu bahan baku industri yang sangat dibutuhkan sehingga banyak petani yang berminat ikut membudidayakan porang mengingat harga jual yang cukup menggiurkan.

Menurut data yang dikutip dari litbang.pertanian.go.id expor porang pada tahun 2020 sebanyak 32.000 ton, dengan nilai export mencapai 1,42 triliun (rupiah) ke Negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya. Sehingga ada peningkatan sebesar 160% dari tahun 2019.

Kementerian Pertanian juga berupaya mendongkrak potensi produksi umbi porang untuk meningkatkan volume ekspor. Salah satunya melalui program budidaya porang seluas 32.000 Ha di 37 Kabupaten 10 Provinsi di Indonesia.

Mentan juga menegaskan kedepannya, strategi pengembangan tanaman porang akan dilakukan dengan memacu riset pengolahan dan produk turunannya ke arah industri pangan.

Presiden Joko Widodo berharap agar industri porang di Indonesia tidak mengekspor porang yang masih bentuk mentahan, melainkan produk yang sudah jadi agar nilainya menjadi tinggi.

Mengenai hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Berau melalui UPT Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian Suparman mengatakan, untuk saat ini kapasitas dirinya hanya sebatas pembinaan di lapangan untuk petani-petani porang.

“Jika ada masyarakat yang berkebun porang, kita bina dan damping cara berkebun yang baik. Karena porang itu harus mempunyai saving dana atau modal yang cukup, jadi ya kita akan membentuk kelompok tani,” ujar Suparman.

Untuk dukungan pemerintah Kabupaten Berau sendiri, dari kementrian hingga Kabupaten hanya memberi dukungan  untuk komoditas strategis, seperti Padi, Jagung, Bawang Merah dan Cabai untuk Kalimantan Timur khususnya Kabupaten Berau.

“Untuk berkebun itukan perlu mesin, jaringan irigasi, perlu jalan, dan sebagainya. Sedangkan kalau khusus porang belum ada. Untuk program bupati sekarang ini baru  Padi, Jagung, Bawang Merah dan Cabai. Sebelum adanya porang pun ada saja hasil perkebunan yang lain tapi tidak termasuk komuditas strategis, ”tegas Suparman.

Suparman menambahkan, salah satu pabrik porang yang ada saat ini, investornya dari luar negeri, sehingga hasil pengolahan bahan mentah atau setengah jadi tersebut di expor ke negaranya lalu diolah menjadi produk jadi dan dipasarkan dengan harga yang relatif tinggi. Dengan adanya pabrik pengolahan bahan mentah porang menjadi produk jadi di Kabupaten Berau, hal ini kemungkinan dapat memecah monopoli expor, sehingga produk tersebut dapat diolah langsung oleh negara penghasil porang dan langsung diexpor berupa produk jadi, pungkas Suparman. (*)

 

Bagikan