Surat Terbuka untuk Mas Menteri Nadiem: Tak Usah Diperumit, di Surga Besok Sepatu ini Akan Menjadi Saksi

A-NEWS.ID – Di tengah viralnya Menteri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menginap di rumah guru, ternyata ada kesedihan tenaga pengajar di pelosok sana yang mungkin belum tersentuh mata kamera.

Dalam sorotan kamera “tim khusus”, senyum Nadiem tampak jelas di hadapan deret makanan yang tersaji di meja makan. 

Cerita mantan bos Gojek mengunjungi dan menginap di rumah guru asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini viral dan memancing puja dan puji.

Rumah yang dipilih Nadiem untuk menginap adalah milik seorang guru sekolah dasar, Khoiry Nuria Widyaningrum (36), bersama keluarganya.

 

Malam-malam Nadiem beserta timnya tiba di rumah tersebut sekitar pukul 20.30 WIB untuk bertamu pada Senin, 13 September 2021.

Di balik cerita senyum Nadiem di depan sorot kamera tersebut ternyata ada kisah lain yang lebih ngilu dari senyum pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut.

Kisah itu ditulis oleh seseorang yang menamai dirinya Novi Khassifa. Tugasnya hanya sebagai pengawas ruang PPPK.

Dia berani menulis surat terbuka berisi kenyataan pahit satu potret perlakukan pemerinta pada sosok guru.

Ditulis dengan berurai air mata, Novi Khassifa mengawali tulisan dengan mempertanyakan soal rasa.

“Tak adakah rasa ngilu di dalam dada mas menteri melihat sepatu tua yang lusuh ini?” kata Novi Khassifa mengawali tulisannya itu.

Novi Khassifa lantas menceritakan soal sepatu bermerek yang dipakai seorang guru tua.

“Memang benar sepatu tua ini terlihat bermerek, tetapi tahukan ini hanya sepatu loak apkiran. Tahukah Mas Menteri, sepatu ini telah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh si empunya,” ucap Novi Khassifa menceritakan.

Kemudian, dia menyematkan foto seorang bapak tua yang jabatan tertingginya sebagai seorang guru.

Kemeja putih dan bercelana hitam yang terlihat sudah memudar. “Seorang bapak dengan pakaian putih lusuh dan celana hitam yang warnanya sudah tak hitam lagi karena pudar,” ucap dia.

Di usia senjanya bapak tua itu masih setia memegang teguh pada janjin di hatinya untuk tetap mengajar anak membaca dan mengeja.

“Mendekati usia senja masih setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja,” tutur Novi Khassifa dalam kisahnya itu.

Tak pernah ada kata menyerah, malah dia semakin semangat mendidik di usia yang tak lagi muda.

Meski berharap ada kebijakan yang menyentuh kehidupannya lebih baik, hal itu hanya angan-angan.

“Di saat putus pengharapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Beliau tetap semangat. Tak sekedar mengajar tetapi mendidik. Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membeli sepatu,” ucapnya.

“Terpaksa di saat pulang mengajar beliau mencari pendapatan tambahan sebagai pekerja serabutan. Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak,” kata Novi Khassifa mengingat janji sang menteri.

Akan tetapi, Novi Khassifa mengungkap fakta jika janji sang menteri serasa mimpi bagi bapak tua dan jutaan guru lainnya.

“Tetapi tahukah mas menteri? soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya,” kata Novi Khassifa.

Alih-alih anak buah Jokowi ini membuat kebijakan nyata untuk mereka, yang ada membuat kepala si guru tua itu pening kepala.

“Soal-soal yang membuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening,” ucapnya.

Pak guru tua itu bukan tak mau mencoba dan berusaha menurut pada keinginan Mas Mentri.

Dia mencobanya dan belajar seperi guru-guru muda yang memiliki semangat memperbaiki nasib.

“Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa. Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya sayapun ikut terisak,” kata Novi Khassifa menceritakan pemandangan pak guru tua yang namanya tidak disebut dalam surat terbuka ini.

Dia lantas membenarkan jika pak guru tua tak cerdas, tak sekereatif dengan Mas Menteri. Tapi dia tegas mengatakan, jika guru tua ity jauh lebih teras sinarnya sehingga pelosok negeri terang benderang dibuatnya.

“Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri. Memang benar beliau tak pandai teknologi, tetapi tanpa teknologi beliau mampu membuat anak-anak negeri ini merangkai kata dari A hingga Z. Berhitung hal-hal dasar untuk memahami hidup,” ucap Novi Khassifa.

“Memang benar para muridnya sebagian besar menjadi TKI dan TKW. Tapi tahukah mas menteri, bukankah mereka juga merupakan pahlawan penghasil devisa negara tercinta ini?” ucap Novi Khassifa bertanya pada Mas Menteri.

Dengan kondisi yang ada di dunia nyata itu, Novi Khassifa meminta Mas Menteri memberikan keringanan.

“Beliau mempunyai andil yang besar dalam membangun negeri tercinta ini. Sudi kiranya Mas Menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak,” kata dia.

“Tak usah diperumit. Jika tidak ada kebijakan untuk mengangkat derajat mereka, setidaknya di surga besok sepatu ini akan menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan umat,” ucap Novi Khassifa menutup kenyataan yang terjadi di Indonesia saat ini.

Sumber : Pikiranrakyatcom

Bagikan