TANJUNG REDEB – Maraknya aktivitas kapal wisata di perairan wisata bahari Berau yakni di Pulau Derawan dan Pulau Maratua, ternyata belum sepenuhnya dimaksimalkan retribusinya. Padahal, pemungutan dari kapal-kapal itu bisa jadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru.
Namun, untuk melakukan penarikan distribusi tak bisa serta merta dilakukan. Kewenangan yang saat ini dipegang oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, membuat Pemerintah Daerah harus mencari celah agar bisa menambah pundi-pundi kas daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budasantosa, ketika dikonfirmasi tentang hal ini menyebut jika aktivitas kapal wisata di laut Berau memang belum tercover oleh dinasnya. Padahal, perputaran ekonomi dari aktivitas kapal wisata itu diakuinya cukup besar.
“Memang seharusnya ada timbal baliknya juga untuk daerah. Tapi ini tidak bisa dilakukan secara sepihak karena kewenangan pengelolaan wilayah laut berada di pemerintah provinsi,” ungkapnya.
Menurutnya, Pemerintah Berau perlu membangun kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, agar dapat mencari formulasi yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang sudah ada.
Karena itu, pembahasan lintas instansi dinilai menjadi langkah yang harus segera dilakukan, agar seluruh pihak memiliki kesamaan pandangan mengenai tata kelola wisata di wilayah laut.
“Kami berencana mengusulkan pertemuan bersama pemerintah provinsi untuk membahas langkah strategis ke depan, termasuk mencari skema yang memungkinkan daerah memperoleh manfaat ekonomi tanpa bertentangan dengan regulasi yang berlaku,” tambahnya.
Besarnya nilai transaksi dari aktivitas kapal wisata juga dinilai menunjukkan tingginya daya tarik wisata bahari di Berau, khususnya kawasan Kepulauan Derawan yang telah lama menjadi destinasi unggulan wisata selam dan bahari Indonesia.
Ide penarikan retribusi kapal wisata ini bermula dari adanya aktivitas kapal wisata SeaiSee yang menawarkan paket pelayaran mewah di kawasan perairan Berau, hingga Kepulauan Derawan dengan nilai transaksi mencapai miliaran rupiah dalam setiap perjalanan.
SeaiSee yang menawarkan berbagai paket pelayaran dengan mata uang Euro, dianggap sangat potensial menambah PAD. Karena untuk rute Tarakan–Tarakan selama tujuh hari enam malam, harga yang ditawarkan mencapai 3.019 euro per orang atau sekitar Rp 62 juta. Sementara itu, paket pelayaran rute Tarakan–Manado selama sembilan hari delapan malam dijual seharga 4.025 euro atau sekitar Rp 82,7 juta per penumpang.
Kapal tersebut memiliki kapasitas hingga 21 tamu dalam satu kali perjalanan. Dengan asumsi seluruh kursi terisi, omzet bruto yang diperoleh dalam satu trip diperkirakan berkisar antara Rp 1,3 miliar hingga Rp 1,7 miliar, bergantung pada rute yang dipilih wisatawan.
Data pada laman pemesanan juga menunjukkan bahwa selama Juli terdapat tiga jadwal pelayaran, yakni pada 8 Juli, 16 Juli, serta 24 Juli untuk rute Tarakan–Manado. Setelah itu, kapal dijadwalkan membuka pelayaran ke kawasan Laut Banda. (Ard)













