TANJUNG REDEB – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Berau semakin masif. Dari data yang masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total sekitar 118 hektar lahan yang sudah habis dilahap api.
“Kami mencatat total kejadian karhutla selama bulan Agustus 2026 hingga hari ini sudah di angka lebih dari ratusan. Dengan total 118 hektar luasan yang terbakar, terdiri dari jumlah kejadian dan terlaporkan seluas 83 hektar, dan jumlah kejadian belum terlaporkan seluas 35 hektar,” ungkap Kepala BPBD Berau, Masyahadi Muhdi dalam paparannya di rakor penanganan karhutla, Selasa (18/8) malam, di ruang Sangalaki Setkab Berau.
Melihat angka luasan lahan yang terbakar itu, sudah seharusnya gerak cepat dilakukan. Pasalnya, beberapa lokasi ada yang tidak terjangkau untuk dilakukan penanganan sehingga luasannya masih bisa berpotensi bertambah.
“Selain itu, kita juga mengantisipasi karena biasanya setelah Karhutla ini, musim kemarau datang dengan dampaknya adalah kekeringan. Nah, sehingga perlu kita lakukan antisipasi-antisipasi untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi,” tegasnya.
Di Provinsi Kaltim, Kabupaten Berau menduduki peringkat nomor satu kejadian karhutla. Artinya, dengan jumlah titik panas yang ada, menandakan bahwa potensi kebakaran hutan yang terjadi juga tinggi.
“Hampir setiap malam masih terjadi karhutla. Bahkan, sampai hari ini pun di Tanjung Batu juga masih terjadi juga. Di Limunjan saja sudah terjadi 7 hari, kemudian tadi tim Forkopimda ke Jalan Labanan Kelay, juga langsung dihadapkan dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
Diungkapkannya juga, pada tanggal 10 Agustus 2026 kemarin, saat rapat terakhir, laporan masuk kejadian karhutla di angka 38 kejadian dengan luasan yang terbakar seluas 40 hektar. Dan per tanggal 17 Agustus sudah di angka 118 hektar. Artinya, dalam 1 Minggu luasan lahan yang terbakar bertambah cukup banyak.
“Itu untuk yang tercatat. Sedangkan ada beberapa lokasi yang tidak terjangkau, sehingga juga tidak bisa kita lakukan untuk pendataan. Artinya kita sudah memasuki masa-masa kritis untuk sama-sama berpikir bagaimana kita menanggulanginya, bagaimana kita menanganinya,” harapnya. (Ard)













