TANJUNG REDEB – Selama masa libur Lebaran 1447 H tahun ini, objek wisata pesisir Berau diserbu belasan ribu wisatawan. Tercatat total 15.238 orang masuk ke pesisir Berau khususnya Bidukbiduk.
Lonjakan kunjungan ini bahkan disebut merupakan yang terbanyak dalam beberapa tahun terakhir. Efek terbukanya akses darat dari Kutim ke Berau melalui Jembatan Sei Nibung, menjadi salah satu faktor peningkatan kunjungan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mencatat, sejak 20 hingga 29 Maret 2026, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke sejumlah objek wisata di Biduk-Biduk menembus belasan ribu orang. Rinciannya, 9.594 wisatawan mengunjungi Labuan Cermin, 3.144 orang ke Pulau Kaniungan, dan 2.500 orang ke Air Terjun Nyalimah.
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah, mengatakan, lonjakan tersebut sejatinya telah diprediksi seiring meningkatnya konektivitas menuju wilayah pesisir Berau. Namun, skala membludaknya jumlah pengunjung di lapangan diakui melampaui ekspektasi, terutama bagi para pengelola wisata.
“Memang sudah kami perkirakan akan terjadi peningkatan kunjungan. Sekarang akses menuju Biduk-Biduk semakin terbuka, baik dari darat, laut, maupun udara,” ujarnya ditemui beberapa waktu lalu.
Selain jalur darat, rute laut baru dari Tarakan yang kini dilayani transportasi cepat, juga menjadi salah satu faktor pendongkrak kunjungan wisatawan. Banyaknya alternatif akses baru, membuat wisatawan tidak lagi bergantung pada satu jalur utama, sehingga pergerakan menjadi lebih fleksibel dan masif.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan persoalan baru, terutama terkait kesiapan fasilitas pendukung di lapangan. Salah satu dampak yang sempat menjadi perhatian publik adalah terbatasnya ketersediaan akomodasi.
Secara kapasitas, Disbudpar mencatat terdapat sekitar 78 unit akomodasi di Biduk-Biduk, baik berupa resort maupun homestay, dengan estimasi rata-rata 10 kamar per unit atau sekitar 780 kamar. Selain itu, tersedia pula fasilitas tambahan seperti glamping dan tenda yang dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Namun, saat lonjakan kunjungan terjadi, seluruh fasilitas tersebut nyaris terisi penuh. Bahkan, masyarakat setempat turut berinisiatif membuka homestay dadakan dengan memanfaatkan rumah pribadi untuk menampung wisatawan.
“Kalau sebenarnya mau bertanya ke warga atau pengelola, masih bisa diarahkan ke alternatif penginapan, termasuk rumah warga. Tapi memang ini jadi evaluasi bagi kami,” kata Samsiah.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menambah fasilitas penunjang seperti glamping dan tenda, terutama untuk menghadapi lonjakan saat musim libur. (Ard)













