Follow kami di google berita

Mangrove, Nafas Alam dan Masyarakat Loktuan

Mata pengunjung langsung dimanjakan begitu memasuki area dengan plang bertuliskan Mangrove Telok Bangko. Pepohonan tinggi menjulang dengan suasana asri di sepanjang track terbuat dari kayu Ulin itu, juga memberikan perasaan yang tak biasa seperti ketenangan.

Meskipun harus berjalan masuk ke dalam dari jalan utama kurang lebih sejauh 810 meter, dan melewati pemukiman warga sekitar di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, namun pemandangan yang disajikan dijamin memuaskan indera penglihatan kita.

Salah satu lokasi konservasi sekaligus objek wisata ini letaknya masih di daerah perkotaan. Bahkan, untuk mencapai lokasi ini terbilang mudah dijangkau, bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Ketika memasuki area wisata, selain disambut ribuan pohon Mangrove, keramahan pengelola dan petugas yang berjaga di pintu pembelian tiket masuk juga memberikan kesan nyaman bagi pengunjung.

Cukup dengan membayar Rp3 ribu untuk tiket dewasa dan Rp2 ribu untuk tiket anak-anak, pengunjung sudah bisa menikmati sajian keindahan alam dengan nuansa berbeda. Arena bermain mandi bola anak dengan tiket masuk Rp10 ribu dan sewa gazebo di harga Rp25 ribu, bisa dinikmati sepuasnya oleh pengunjung selama berada di lokasi wisata.

Adalah Hadi Wiyoto, pria berusia lebih setengah abad, yang dikenal sebagai pemilik Telok Bangko itu. Berawal dari kecintaannya pada tanaman Mangrove, Hadi mulai menanam tumbuhan jenis Perdu atau semak ini. Selayaknya membesarkan anak sendiri, Hadi sepenuh hati berusaha menyelamatkan lahan seluas 6 hektar lebih yang telah dibelinya sejak 2010 lalu itu, dengan menanam Mangrove secara mandiri.

“Awalnya saya berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan. Dulu area ini berupa tambak tapi sudah kritis, dan sudah saya perhatikan sejak tahun 2009,” tutur Hadi ketika ditemui Sabtu (18/10/2025).

Bermula dari alasan itulah, dirinya memutuskan untuk membeli lahan yang dianggap orang lain tidak menguntungkan. Merogoh kocek lumayan dalam hingga Rp1,6 Miliar, tak ada pikiran apapun dalam benaknya, selain untuk menyelamatkan kondisi lahan itu.

Seiring berjalannya waktu di pertengahan tahun 2019, usaha penyelamatan yang dilakukan Hadi mulai dilirik pihak ketiga. Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Pupuk Kaltim, mulai melakukan pembibitan.

“Dia (Pupuk Kaltim) mau sewa lahan melalui pemerintah untuk mengembangkan bibit Mangrove. Karena saya menyukai Mangrove, saya bilang tidak usah menyewa karena saya punya lahan. Silahkan pilih dimana tempatnya, berapa luasnya,” bebernya.

Sejak 2019 itulah Memorandum of Understanding (MoU) atau kerja sama dengan pihak Pupuk Kaltim untuk pembibitan mulai berjalan. Bahkan, saat ini sudah ada kelompok khusus yang membantu melakukan konservasi Mangrove yakni kelompok Telok Bangko.

*Sumber Rezeki Masyarakat Sekitar*

Sejak adanya Mangrove Telok Bangko, tak bisa dipungkiri jika perekonomian masyarakat pun ikut terdongkrak. UMKM yang ada di sekitar lokasi objek wisata itu kecipratan rezeki.

Irma salah satunya. Wanita yang ternyata juga menyandang status anggota Kelompok Telok Bangko ini sudah merasakan salah satu dari efek domino adanya objek ekowisata itu. Selain aktif menjalankan program konservasi, Irma yang merupakan warga asli Sulawesi itu, membuka lapak jualan makanan dan minuman di Telok Bangko.

“Sejak awal dibuka saya sudah berjualan disini. Kalau weekend selalu ramai. Apalagi kalau ada event atau kegiatan seperti hari ini, dimana anak SD melakukan pelatihan ecoprint. Rezeki ada saja dan sangat membantu bagi saya sebagai ibu rumah tangga,” ucapnya sembari melemparkan senyum tipis.

Diungkapkan Irma, dirinya beserta sang suami memilih menjadi anggota Kelompok Mangrove Telok Bangko lantaran rasa kepeduliannya terhadap lingkungan yang cukup besar. Karena selain program pembibitan dan penanaman Mangrove, ada program lain yang juga aktif dijalankan yaitu bersih-bersih area sekitar Mangrove.

“Tidak tentu kegiatan bersih-bersihnya. Tapi kami rutin menjalankan. Ini karena masih banyak sampah yang ikut terbawa air pasang dan tersangkut di akar-akar Mangrove. Kalau bukan kita yang memulai membersihkan, siapa lagi?,” ucapnya.

Ternyata, ketika Telok Bangko belum seperti saat ini, masyarakat sekitar masih banyak yang membuang sampah ke air, dengan harapan akan terbawa dan menghilang mengikuti arus menuju lautan lepas.

Namun sejak masuknya Pupuk Kaltim dengan program konservasinya, masyarakat pun mulai sadar jika lingkungan Mangrove seharusnya dijaga kebersihan dan kelestariannya. Terlebih dengan manfaat yang luar biasa dari tanaman ini dalam melindungi pantai dari abrasi, menjaga kualitas air dan menyerap karbon untuk mencegah perubahan iklim.

“Sejak adanya Mangrove ini, hewan yang sering muncul juga beragam jenis. Selain monyet yang sering terlihat bergelantungan di cabang-cabang pohon khususnya saat suasana sepi pengunjung, ada juga Berang-Berang yang terkadang menampakkan diri berenang saat air pasang. Juga ada biawak, tupai dan bangau yang sering bermain di pinggiran mangrove saat air sedang surut,” kata Irma.

Dirinya berharap, program Pupuk Kaltim yang memberikan support penuh sejak awal dibukanya wisata ini, bisa terus berlanjut. Dan luasan area tanam Mangrove juga bisa terus bertambah, termasuk juga track yang ada. Agar wisata ini lebih dikenal dan semakin ramai dikunjungi.

Senada, Maulidia Febriana, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi saat menemani adiknya pelatihan ecoprint, menyebut jika wisata Telok Bangko ini mengalami perkembangan yang luar biasa.

“Sudah beberapa kali kesini. Di tahun 2023 lalu pendopo ini belum ada. Sekarang sudah banyak fasilitasnya dan lebih lengkap. Spot sunset atau matahari tenggelam disini sangat indah menjelang senja. Dan itu daya tarik pengunjung seperti saya. Semoga track yang ada diperpanjang sehingga pengunjung bisa lebih banyak mendapatkan spot foto menarik,” katanya.

*Konservasi Mangrove Berkembang Pesat di Tangan Pupuk Kaltim*

Di tangan Pupuk Kaltim, konservasi Mangrove di Kota Bontang berkembang cukup pesat. Melalui departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), mulai bergerak secara serius di bidang lingkungan.

“Kami mengawalinya dari terumbu karang dan penanaman Mangrove. Jadi kami mencoba mencari beberapa lokasi, kemudian mitra binaan, masyarakat yang bisa diajak berkolaborasi untuk kedua hal tersebut,” terang Asisten Vice Presiden Pembangunan Sosial dan Lingkungan, Departemen TJSL Pupuk Kaltim, Uchin Mahazaki.

Diungkapkannya, khusus untuk penanaman mangrove ini, sebelumnya dilakukan penanaman secara mandiri di Pulau Kedindingan. Hingga kemudian akhirnya berfokus di area sekitar perusahaan.

“Kebetulan ini ada namanya Teluk Bangko yang miliknya Pak Hadi. Jadi kami mulai bekerja sama dengan Pak Hadi untuk konservasi Mangrove, pembibitan dan juga penanaman. Untuk penanaman bersama kelompok, ini kami memfokuskan di area HGB 65 milik Pupuk Kaltim,” ungkapnya.

Program penanaman Mangrove bersama Kelompok Teluk Bangko dilakukan secara intens sejak 2021 di sepanjang jalur laut, yang berbatasan dengan lapangan Golf Bukit Suntuk.

“Totalnya sampai sekarang dengan kelompok Teluk Bangko ini sudah sekitar mungkin 400 ribu bibit Mangrove yang ditanam di sepanjang area pinggiran HGB 65 ini,” katanya.

Awalnya, program pembibitan dan penanaman Mangrove ini, dikatakannya juga untuk mendukung proses dekarbonisasi perusahaan. Apalagi sekarang isu terkait karbon trading yang berasal dari penanaman Mangrove, cukup mulai gencar dilakukan oleh beberapa perusahaan.

Namun, hal ini juga mungkin bisa dimanfaatkan oleh perusahaan terkait karbon trading di penanaman Mangrove. Tapi intinya adalah penanaman mangrove ini untuk keseimbangan ekosistem yang ada di pesisir.

“Seperti kita ketahui, dengan tumbuhnya Mangrove di bawah itu juga akan menambah keanekaragaman biota laut mulai dari ikan, udang, kepiting dan segala macamnya. Sehingga ini juga bisa dimanfaatkan oleh beberapa masyarakat di sekitar sini,” beber Uchin.

Selain itu, program Mangrove ini juga meningkatkan ekonomi dan kemandirian. Dengan dukungan Pupuk Kaltim mulai dari pengembangan lokasi yang ada sekarang. Misalnya jogging track, kemudian aula, pembangunan beberapa fasilitas lainnya.

Menariknya lagi, selain penanaman Mangrove juga ada diversifikasi produk turunan Mangrove. Seperti pengolahan kerupuk Amplang dari bahan Mangrove. Kemudian sirup dan dodol yang juga dari bahan Mangrove.

“Ini yang dikembangkan sebagai produk turunannya Mangrove. Sehingga bukan hanya ditanam tapi juga bisa dimanfaatkan untuk produk yang lebih bernilai ekonomis,” imbuhnya.

Rumah produksi yang tersertifikasi juga disediakan oleh Pupuk Kaltim bagi masyarakat. Sehingga mempermudah perluasan pasar dari anggota kelompok untuk produknya.

Kemudian efek domino dari perekonomiannya juga bisa cukup terasa, dengan hadirnya kawasan Telok Bangko ini sebagai eko edu wisata. Dimana sudah ada kerja sama dengan beberapa sekolah dasar di Loktuan, untuk menjadi mitra kurikulum P5. Menjadikan Telok Bangko ini sebagai pusat pembelajaran terkait ekosistem pesisir, laut dan juga Mangrove.

“Telok Bangko ini juga sudah dua kali berkontribusi kepada Pupuk Kaltim, dalam pencapaian proper emas nasional yaitu di tahun 2021 dan 2023. Dengan mengedepankan Telok Bangko sebagai salah satu inovasi sosial yang dinilai oleh KLHK,” tutupnya.

Tahun ini pun menjadi tahun terakhir pemberian dukungan bagi pengelola wisata Telok Bangko, lantaran masyarakat sudah mulai mandiri menjalankan pengelolaan wisata itu. Namun pendampingan masih terus dilakukan secara berkelanjutan.

Beberapa pelatihan seperti hospitality, penanaman Mangrove, dan pengelolaan wisata. Serta mendatangkan beberapa pembicara yang memang cocok di bidangnya. Bahkan, kelompok ini juga dibawa untuk benchmark ke lokasi pengelolaan wisata lain, yang berbasis masyarakat, bukan perusahaan atau pihak swasta. Seperti ke Gunung Kidul di Yogyakarta. (*)

Bagikan

Subscribe to Our Channel