TANJUNG REDEB – Penerapan Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) di Kabupaten Berau yang telah dijalankan sejak 2002 lalu, ternyata menjadi percontohan bagi daerah lain.
Pemerintah Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu melakukan studi tiru ke Kabupaten Berau untuk mempelajari pengelolaan KTL ini. Berau dipilih karena dinilai memiliki pengalaman penerapan KTL tersebut.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Berau, Hendra Syaifuddin, menjelaskan bahwa fokus utama kunjungan tersebut adalah mempelajari pengelolaan KTL yang telah diterapkan di Bumi Batiwakkal selama lebih dari dua dekade.
“Utamanya mereka ingin mempelajari KTL. Berau sudah memiliki kawasan tertib lalu lintas sejak tahun 2002, sementara Kabupaten Balangan yang baru terbentuk tahun 2003 belum memiliki KTL,” ujarnya.
KTL merupakan kawasan percontohan penerapan tertib berlalu lintas, yang ditetapkan secara khusus. Ini karena pengawasan tidak memungkinkan dilakukan secara menyeluruh di satu wilayah.
Di Kabupaten Berau, KTL hanya ditetapkan pada satu kawasan yang mencakup tiga ruas jalan utama di Tanjung Redeb, yakni Jalan Pemuda, Jalan S.A. Maulana, dan Jalan APT Pranoto.
“Kalau KTL itu satu kawasan saja sebagai daerah percontohan. Di Tanjung Redeb meliputi tiga ruas jalan yang ditetapkan melalui keputusan Bupati,” jelasnya.
Meski berstatus sebagai kawasan tertib lalu lintas, sejumlah ruas jalan tersebut masih kerap digunakan untuk aksi balap liar. Menanggapi hal itu, Hendra menegaskan bahwa penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas, termasuk balap liar, merupakan kewenangan pihak kepolisian.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan lalu lintas di darat melibatkan tiga pilar utama, yakni Dinas Pekerjaan Umum yang bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur jalan, Dinas Perhubungan yang menangani perlengkapan lalu lintas seperti rambu, marka, dan lampu lalu lintas, serta kepolisian yang berwenang melakukan pengaturan, patroli, hingga penegakan hukum.
“Kalau soal balap liar, tugas utamanya memang kepolisian melalui Satlantas. Setahu saya mereka juga sering melakukan razia malam, tetapi tentu tidak bisa setiap saat karena pelaku balap liar juga mencari waktu-waktu tertentu,” katanya.
Terkait alasan Balangan memilih Berau sebagai lokasi studi tiru, Hendra mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun menurutnya, sektor pariwisata menjadi salah satu daya tarik yang membuat Berau kerap dipilih sebagai tujuan berbagai kegiatan pemerintahan.
“Kalau menurut saya, salah satu daya tarik Berau adalah pariwisatanya. Setelah kegiatan studi tiru, rombongan juga melanjutkan perjalanan ke Pulau Derawan untuk berwisata,” pungkasnya. (Ard)













