Pameran “Berau dalam Gambar” Jadi Arsip Hidup dan Benteng Keaslian Budaya di Era AI

TANJUNG REDEB — Fotografi kini tidak lagi sekadar seni menangkap momen, melainkan bertransformasi menjadi “mesin waktu” yang merekam laju transformasi Kabupaten Berau.
Hal ini terungkap dalam pameran fotografi “Berau dalam Gambar”, sebuah ajang yang tidak hanya memamerkan estetika visual, tetapi juga merajut kembali ingatan kolektif masyarakat tentang perjalanan sejarah daerah.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, yang membuka pameran di Story Mount pada Kamis (29/10), memberikan apresiasi tinggi terhadap pameran ini. Di tengah derasnya arus modernisasi, ia menilai dokumentasi visual memegang peran vital sebagai arsip autentik yang menjembatani masa lalu, masa kini, dan proyeksi pembangunan masa depan.
“Dokumentasi merupakan sebuah arsip yang sangat berharga yang dapat dijadikan gambaran, acuan, bahkan kenangan,” ungkap Sri Juniarsih.
Menurutnya, komparasi visual dari masa ke masa yang tersaji di galeri pameran memberikan narasi jujur mengenai percepatan pembangunan infrastruktur hingga dinamika sumber daya manusia di Bumi Batiwakkal.
Lebih dari itu, rekam jejak visual ini diproyeksikan menjadi instrumen strategis dan bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan kesinambungan program pembangunan lintas kepemimpinan.
Di sisi lain, pameran ini juga menjadi ruang refleksi bagi masa depan ekonomi kreatif, khususnya bagi generasi muda. Di tengah ledakan teknologi digital dan masifnya penggunaan Artificial Intelligence (AI), Sri Juniarsih menitipkan pesan krusial kepada para kreator muda agar tetap berpijak pada keaslian nilai estetika lokal.
Ia mengingatkan, kendati teknologi AI dapat mendongkrak efisiensi dan proses kreatif, integritas subjek yang difoto harus tetap dijaga. Karakter asli kebudayaan, alam, dan manusia Berau tidak boleh tereduksi oleh manipulasi digital yang berlebihan.
“Foto tersebut menyimpan pesan, mengandung pesan, bahkan mengandung ajakan. Teknologi dapat membantu proses kreatif, tetapi hasil akhirnya harus tetap memperhatikan keaslian agar tidak mengubah karakter asli subjek yang ditampilkan,” tegasnya.
Tidak hanya berbicara soal arsip dan sejarah, pameran “Berau dalam Gambar” turut menjelma menjadi etalase raksasa bagi kekayaan pariwisata dan mozaik kebudayaan lokal.
Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas fotografi, hingga pelaku media ini dinilai sukses memperluas ekosistem ekonomi kreatif di Berau.
Melalui bidikan kamera yang sarat makna, karya-karya yang dipamerkan diharapkan mampu berbicara lebih lantang daripada sekadar deretan kata, mengajak publik, wisatawan, hingga generasi penerus untuk merawat memori, mengenal identitas, dan merumuskan arah masa depan Berau yang berkelanjutan. (ADV/Ard)




















