TANJUNG REDEB – Persoalan sampah di Kabupaten Berau berpotensi memasuki babak baru. Jika selama ini sampah identik dengan persoalan lingkungan, ke depan limbah rumah tangga justru ditargetkan menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomi melalui teknologi modern berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Transformasi ini disiapkan melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Berau, PT Bumi Sanggam Labanan Lestari, dan PT Jono Enviro Indonesia sebagai penyedia teknologi.
Direktur Utama PT Jono Enviro Indonesia, Jodi Irawan, mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern di kawasan Sambaliung.
Lahan untuk pembangunan fasilitas tersebut direncanakan berasal dari dukungan program CSR perusahaan yang telah dialokasikan di wilayah tersebut.
“Rencananya di Sambaliung akan dibangun fasilitas pengolahan sampah modern. Teknologi yang digunakan cukup lengkap, ada AI, sistem penyaringan modern, hingga teknologi pengolahan yang mendukung sustainability ke depan,” ujarnya, Senin (29/6)
Menurut Jodi, salah satu persoalan utama pengelolaan sampah di Indonesia terletak pada dua hal mendasar: sampah yang masih tercampur dan kadar kelembapan yang tinggi.
Kondisi ini membuat pengolahan sampah sering kali tidak optimal dan sulit menghasilkan nilai ekonomi.
“Masalah sampah di Indonesia itu umumnya dua, tercampur dan basah. Kalau pemilahan bisa dilakukan dengan baik, nilai tambah dari sampah itu sebenarnya sangat besar,” jelasnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, PT Jono Enviro mengandalkan teknologi AI yang dirancang untuk membantu proses pemilahan sampah secara lebih cepat, presisi, dan efisien.
Dengan sistem ini, ketergantungan pada tenaga manusia dalam proses sortir dapat dikurangi secara signifikan.
“Dengan teknologi AI, proses pemilahan akan jauh lebih optimal,” katanya.
Tak hanya itu, sampah basah yang selama ini dianggap sebagai persoalan justru dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi energi baru terbarukan.
Melalui teknologi pengeringan dan pengolahan tertentu, sampah dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif yang nantinya mendukung kebutuhan energi industri.
Jodi menjelaskan, hasil olahan sampah tersebut diproyeksikan dapat dimanfaatkan sebagai bahan co-firing batubara, baik untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap, industri semen, maupun sektor industri lain yang membutuhkan energi.
“Sampah basah sebenarnya punya peluang besar menjadi energi terbarukan,” ujarnya.
Untuk target pembangunan, Jodi berharap seluruh proses administrasi dan legalitas dapat segera rampung agar konstruksi bisa segera dimulai.
Ia menargetkan fasilitas pengolahan sampah modern tersebut dapat mulai beroperasi pada 2027.
Jika seluruh perizinan berjalan lancar, proses pembangunan fisik dan pemasangan alat diperkirakan memerlukan waktu sekitar sembilan bulan.
“Harapan kami, jika semua administrasi dan legalitas selesai, pembangunan bisa segera dimulai dan fasilitas ini dapat beroperasi pada 2027,” tegasnya.
Saat ini, proses legalitas disebut telah dipersiapkan dan diharapkan dapat segera tuntas dalam waktu dekat.
Jika proyek ini terealisasi, Berau berpeluang menjadi salah satu daerah di Kalimantan Timur yang menerapkan pengolahan sampah modern berbasis AI dalam skala besar.
Langkah ini sekaligus membuka peluang besar bagi transformasi pengelolaan sampah di Berau dari persoalan lingkungan menjadi sektor strategis penghasil energi dan nilai ekonomi baru.(Akm)













