TANJUNG REDEB – Salah satu proyek di Kampung Tasuk Kecamatan Gunung Tabur mendapatkan sorotan tajam. Proyek bernama pembangunan saluran irigasi dan normalisasi kawasan Kampung Tasuk, yang seharusnya tuntas pada Desember 2025 lalu, ternyata tak terlihat hasil pengerjaannya.
Proyek dengan anggaran fantastis sebesar Rp9,2 M dari APBD-P 2025 ini, tertulis jelas jika proyek seharusnya dikerjakan sejak 1 Desember hingga 31 Desember 2025.
“Pengerjaan itu sebenarnya sudah selesai. Sudah 100% kita bayar. Cuma ada warga ini kebetulan dia dapat bibit tapi sawahnya itu belum bisa digarap, karena memang irigasinya belum sampai ke sana,” ujar Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra Pranata dihubungi Rabu (18/2/2026).
Dikatakan Hendra, jika petani meminta tolong agar lahannya bisa segera digarap, maka akan dibantu. Tetapi kalau sudah menuduh pekerjaan itu tidak sesuai, maka itu tidak benar.
“Artinya kan, dia bilang kita korupsi, itu yang tidak betul. Padahal kalau dia minta tolong saja oke lah. Dan dia sendiri tidak ada omongan ke RT. Waktu kita survei, dia tidak ngomong apapun. Sedangkan kita koordinasinya sama RT dan aparatur setempat. Kenapa sampai ditempatkan di lahan lain? Itu karena arahan dari RT dan Lurahnya,” katanya.
Untuk saat DPUPR sendiri sedang ada pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan inspektorat. Dan pemeriksaan dilakukan hingga April 2026.
“Biarkan pemeriksaan itu selesai dulu baru nanti kita lihat hasilnya dan dilaksanakan rekomendasinya,” imbuhnya.
Dikatakannya, jika berdasarkan hasil pemeriksaan pada April 2026 nanti, ternyata ada kekurangan, maka akan dilaksanakan. Dan jika disebut tak tuntas juga tidak benar.
“Itu pekerjaan tidak mungkin kita bayar 100% kalau tidak cukup. Nah, kan yang bisa menghitung itu internal kita. Panjang penanganan, material yang digunakan, itu sudah memenuhi syarat untuk dibayar 100% ya kita bayar,” katanya.
Namun jika hasil audit ternyata memang tidak sesuai, maka uang pengerjaan akan dikembalikan. Apalagi pihak kontraktor juga siap melanjutkan pengerjaan itu.
“Karena kita asasnya pengabdian, kita usahakan lah semaksimalnya, walaupun itu di luar dari pekerjaan yang ada. Nah, sekarang ini untuk mengikuti kemauan Bapak itu, kita cetak lagi gorong-gorong,”
Ditegaskannya pula, gorong-gorong yang tengah dicetak itu tidak bisa langsung dipasang hari ini atau besok karena itu terbuat dari beton. Jadi harus menunggu kering dulu supaya bisa diangkat. Kalau dipaksakan kondisi basah diangkat maka akan hancur.
“Bahkan, teknis yang seperti itu saja tidak dimengerti petani itu,” pungkasnya.(ard)













