Follow kami di google berita

Batik Maluang Dongkrak Pendapatan UMKM Berau, Dari Industri Rumahan ke Panggung Nasional

‎TANJUNGREDEB — Industri batik rumahan di Kabupaten Berau mulai menunjukkan taringnya. Produk Batik Maluang yang dahulu hanya diproduksi dalam skala terbatas kini berhasil menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi pelaku UMKM lokal setelah tembus pasar nasional.

‎Tidak hanya menjadi ikon budaya, Batik Maluang kini menciptakan peluang kerja, membuka pasar bagi pengrajin, dan menggerakkan ekonomi masyarakat tanpa harus meninggalkan kearifan lokal.

‎Kepala Bidang Usaha Jasa Sarana dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengungkapkan bahwa peningkatan ekonomi kreatif (ekraf) di sektor batik telah memberi dampak nyata pada keberlangsungan usaha masyarakat.

‎“Dulu banyak pengrajin bekerja sendiri-sendiri dan pasarnya terbatas. Sekarang, setelah dibina dan difasilitasi, produk mereka sudah masuk pasar nasional,” ucapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

‎Keberhasilan itu, menurutnya, tidak muncul begitu saja. Pemerintah daerah mendorong penguatan kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, dan strategi pemasaran modern.

‎Kolaborasi dengan lembaga mitra seperti Bank Indonesia juga memperkuat kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

‎Selain itu, Dekranasda Berau memainkan peran krusial dalam membuka jaringan pemasaran. Banyak pelaku UMKM yang kini menerima pesanan dari luar daerah setelah mengikuti pameran dan kurasi produk.

‎Motif batik yang mengangkat kekayaan alam Kalimantan Timur  seperti daun maluang, sungai, dan satwa khas Berau  menjadi nilai jual utama yang membuat kolektor dan wisatawan melirik.

‎“Keunikannya bukan hanya pada tampilan. Setiap motif punya cerita. Itu yang membuat pembeli merasa punya kedekatan emosional,” jelas Nurjatiah.

‎Dengan meningkatnya permintaan, para pengrajin kini mulai mempekerjakan tenaga tambahan dan meningkatkan kapasitas produksi. Sebagian bahkan mulai merambah penjualan digital untuk memperluas pasar.

‎Pemerintah daerah menilai Batik Maluang bukan sekadar produk budaya, tetapi bukti bahwa ekonomi kreatif mampu menjadi sumber kesejahteraan masyarakat bila dibina dengan tepat.

‎“Tujuan kita bukan hanya memperkenalkan batik. Yang utama adalah memastikan pelaku UMKM bisa naik kelas dan usahanya berkelanjutan,” tutupnya. (Adv/Ky)

Bagikan

Subscribe to Our Channel