Samarinda – Penggunaan rokok dan vape, terutama di kalangan anak muda, kini memicu dampak serius di Kalimantan Timur. Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan banyak kasus anak usia 16 tahun sudah mengalami gangguan paru-paru akibat vape.
Sementara itu, tingginya konsumsi nikotin membuat Kaltim menempati peringkat ketiga nasional dalam prevalensi hipertensi, dengan banyak pasien harus antre hingga tiga bulan untuk operasi jantung.
“Kalau kita tidak makan masih bisa bertahan 24 jam, tidak minum 8–10 jam, tapi tanpa oksigen hanya 5 menit. Maka udara bersih itu vital,” tegasnya dalam Seminar Kesehatan di Ruang Olah Bebaya, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, nikotin merusak dinding pembuluh darah dan memaksa jantung bekerja lebih keras, sehingga tekanan darah meningkat. Risiko semakin besar jika ditambah pola makan tinggi gula dan garam. “Kalau sudah kena jantung, pilihannya cuma pasang ring atau operasi. Lebih baik kita cegah dari sekarang,” ujarnya.
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebenarnya sudah mengatur sanksi denda hingga Rp20 juta bagi pelanggar. Namun, dr Jaya menilai penegakannya masih belum maksimal. Ia berharap Satpol PP dan pihak terkait lebih tegas, termasuk memastikan keberadaan ruang khusus merokok agar tidak mengganggu orang lain.
Sebagai mantan direktur rumah sakit, dr Jaya mengakui berhenti merokok tidak mudah dan butuh proses bertahap. Ia bahkan mendorong revisi perda untuk memperkuat penerapan KTR di semua OPD, sekolah, dan fasilitas publik.
“Kita perlu kader di sekolah untuk kampanye anti-rokok. Ini bukan sekadar slogan, tapi perlindungan masa depan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa merokok bukan tanda keren atau dewasa, melainkan jebakan yang merampas kesehatan dan masa depan.
Menutup sambutannya, dr Jaya mengajak masyarakat menjadikan peringatan HUT RI ke-80 sebagai momentum meneguhkan tekad ‘Merdeka dari Asap Rokok dan Vape, Merdeka untuk Hidup Sehat dan Berprestasi’. (Nain)













