TANJUNG REDEB – Kemajuan teknologi tak bisa dibendung. Di tengah derasnya arus informasi yang kerap membawa budaya luar, Pemerintah Kabupaten Berau mengingatkan, bahwa tokoh adat adalah kompas moral yang memastikan masyarakat tetap berada di jalan yang benar.
Penegasan itu disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Berau, M. Hendratno, saat membuka Silaturahmi Tokoh Adat se-Kabupaten Berau di Hotel Grand Parama, Sabtu (22/11)
“Kita boleh maju, teknologi boleh berkembang, tapi adat harus tetap menjadi pondasi karakter masyarakat Berau,”. tegasnya, Sabtu (22/11).
Hendratno menyebut realitas ini cukup mengkhawatirkan. Digitalisasi yang serba instan kerap membuat generasi muda kehilangan pijakan nilai. “Kalau nilai adat kita tidak dijaga, generasi muda perlahan kehilangan siapa dirinya. Mereka mencari identitas di luar rumahnya sendiri,” ujarnya.
Ia menyoroti hadirnya konten-konten negatif yang diam-diam menggerus sopan santun serta minat terhadap kearifan lokal. Menurutnya, tanda-tanda kompas moral mulai goyah sudah terasa nyata dalam keseharian.
Sebagai daerah multikultur, Kabupaten Berau dihuni banyak suku dan adat yang telah berabad-abad hidup berdampingan. Harmoni itu tidak terjadi begitu saja, ada peran besar tokoh adat sebagai perekat sosial.
“Tokoh adat itu seperti pagar yang menjaga halaman tetap rapi. Kalau pagarnya hilang, semuanya bisa berantakan,” tambahnya.
Karena itu ia menekankan tokoh adat bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi penentu arah untuk Kabupaten Berau ke depannya. Pemerintah pun berharap tokoh adat dapat tampil di garis depan dalam menyelesaikan berbagai potensi gesekan di tengah masyarakat.
“Tidak hanya hadir ketika upacara adat, tapi aktif memberi solusi, mendamaikan, dan menjaga kehormatan sosial,” pungkasnya.
Silaturahmi tokoh adat tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat kembali jati diri Kabupaten Berau, agar kemajuan teknologi tidak membuat masyarakat lupa siapa mereka dan dari mana mereka berasal. (Ta)













