TANJUNG REDEB – Upaya perluasan layanan Perum DAMRI ke sejumlah wilayah di Kabupaten Berau tidak hanya bergantung pada kesiapan unit dan izin trayek, tetapi juga harus mempertimbangkan dinamika transportasi lokal yang sudah lebih dulu beroperasi.
Koordinator Perum DAMRI Cabang Terminal Tanjung Redeb, Sofyan, mengungkapkan bahwa kehadiran DAMRI di beberapa wilayah sempat menimbulkan perbedaan pandangan, khususnya dengan para supir travel. Hal ini dipicu oleh perbedaan tarif dan pola layanan yang cukup signifikan.
Menurutnya, DAMRI sebagai angkutan bersubsidi menawarkan tarif yang relatif lebih murah dibandingkan travel. Namun, dari sisi frekuensi keberangkatan, travel dinilai lebih fleksibel karena dapat beroperasi hampir setiap saat, sementara DAMRI memiliki jadwal tetap.
“Kalau DAMRI itu sekali jalan, sampai tujuan, lalu standby menunggu jadwal kembali. Sementara travel bisa berangkat lebih sering, bahkan hampir setiap waktu,” ujar Sofyan, Kamis (16/4/2026).
Situasi ini, pernah terjadi saat rencana masuknya DAMRI ke wilayah Tanjung Batu. Dalam prosesnya, muncul penolakan dari para supir travel yang khawatir akan berdampak pada usaha mereka.
Ia menilai, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa setiap pengembangan rute baru harus melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat setempat sebagai pengguna utama layanan.
“Kami sebenarnya ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat, apakah mereka membutuhkan DAMRI atau tidak. Itu yang paling penting,” ungkapnya.
Sofyan menegaskan, DAMRI tidak ingin menjadi pesaing yang merugikan pihak lain, melainkan sebagai alternatif transportasi yang dapat melengkapi layanan yang sudah ada, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan opsi perjalanan dengan biaya lebih terjangkau.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, diharapkan pengembangan layanan DAMRI ke depan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (Ta)













