PMI Berau Tegaskan Stok Darah Tersedia, Kekosongan Bergantung Jenis yang Dibutuhkan

TANJUNG REDEB – Keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan darah di Kabupaten Berau perlu dilihat berdasarkan jenis darah yang dibutuhkan pasien.
Palang Merah Indonesia (PMI) Berau menyebut stok darah utuh atau whole blood (WB) tersedia, tetapi kebutuhan darah jenis lain, seperti packed red cells (PRC) dan trombosit, memiliki penanganan berbeda.
Dokter Andika Amran dari PMI Berau menjelaskan, layanan darah memiliki tiga jenis utama, yakni Whole Blod (WB), Packed Red Cells (PRC), dan thrombocyte concentrate (TC). Ketiganya tidak bisa disamakan karena memiliki komponen dan kegunaan berbeda.
Menurutnya, PMI berupaya menyediakan stok untuk setiap golongan darah. Namun, ketersediaan darah harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan permintaan rumah sakit.
“Stok darah itu ada, tetapi harus dilihat dulu pasien membutuhkan jenis darah apa,” jelasnya.
Andika menyebut, pelayanan transfusi darah saat ini juga dilakukan di RSUD Abdul Rivai, RSUD Talisayan, dan RSUD Tirta.
Ia menerangkan, WB merupakan darah utuh yang mengandung berbagai komponen darah. Sementara PRC merupakan komponen sel darah merah yang dipisahkan dari darah utuh dan kerap dibutuhkan pasien dengan kondisi hemoglobin rendah maupun penyakit tertentu.
Proses pemisahan tersebut membutuhkan penanganan dan pengawasan kualitas. Karena itu, darah yang tersedia dalam bentuk WB tidak serta-merta dapat langsung diberikan kepada pasien yang membutuhkan PRC.
“Kalau pasien membutuhkan PRC, darah harus melalui proses pengolahan. Jadi, meskipun stok WB tersedia, bukan berarti semua jenis darah yang dibutuhkan pasien juga tersedia saat itu,” tegasnya.
Selain jenis darah, masa penyimpanan dan kualitas juga menjadi pertimbangan dalam penyediaan darah. Andika mengatakan, darah yang telah melewati batas penyimpanan tidak dapat digunakan dan harus dimusnahkan sesuai ketentuan.
Ia menjelaskan, darah yang disimpan terlalu lama juga dapat mengalami penurunan kualitas untuk kebutuhan pengolahan tertentu. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan PMI harus berhati-hati dalam mengelola stok.
Menurutnya, penyediaan darah bukan sekadar memastikan kantong darah tersedia, melainkan juga menjamin komponen yang diberikan sesuai kebutuhan pasien dan memenuhi standar keamanan.
“Darah yang diberikan kepada pasien harus sesuai kebutuhan dan memenuhi standar kualitas. Kami tidak bisa memaksakan darah yang tidak memenuhi persyaratan,” ujarnya.
Andika pun mengajak masyarakat untuk rutin mendonorkan darah secara sukarela, bukan hanya ketika ada kegiatan besar atau saat keluarga membutuhkan transfusi.
Ia menilai, partisipasi pendonor yang berkelanjutan dapat membantu menjaga ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan.
“Jangan menunggu keluarga membutuhkan darah baru mau donor. Kalau sehat dan memenuhi syarat, silakan donor secara rutin,” pungkasnya.(Akm)




















