TANJUNG REDEB – Pulau Kakaban di Kalimantan Timur (Kaltim) dikenal dengan keindahan danau air tawarnya yang unik karena dihuni ubur-ubur tanpa sengat. Selain itu, salah satu lagunanya bernama Kehe Daing yang berada di dalam pulau ini, juga menawarkan daya tarik wisata yang eksotis.
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan wisata di Kakaban adalah menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan wisata. Danau Kakaban sendiri merupakan kawasan konservasi yang harus dijaga, sehingga wisatawan perlu diarahkan ke area lain seperti Laguna Kehe Daing yang tetap menawarkan pengalaman serupa tanpa merusak ekosistem.
Laguna di sekitar Pulau Kakaban memang sangat berpotensi sebagai destinasi wisata berbasis event. Karena Pulau Kakaban memiliki danau air tawar yang dihuni ubur-ubur, tetapi masuk kawasan konservasi. Jadi, atol ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menikmati Kakaban tanpa merusak ekosistem.
Salah satu upaya agar Laguna ini lebih dikenal adalah dengan penyelenggaraan event olahraga air, yang menjadi kunci untuk menarik wisatawan ke destinasi remote seperti Kakaban.
Beberapa aktivitas yang bisa dikembangkan antara lain lomba speed boat, stand-up paddling, dan canoeing. Hal ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan daya tarik wisata Kaltim secara global.
Sementara itu, Osdek, selaku pengelola wisata Kehe Daing, menjelaskan awal mula wisata eksotis tersebut dimulai. Sejak tahun 1969, kawasan wisata tersebut hanyalah sebuah kebun milik keluarga yang dikelola secara rutin.
Kemudian di tahun 2012, kawasan wisata Kehe Daing menjadi salah satu lokasi eksotis yang disukai oleh wisatawan untuk dikunjungi. Hingga kini, lokasi ini masih ramai dikunjungi, selain menawarkan alam pepohonan yang indah juga memperlihatkan air danau asin yang jernih.
“Wisatawan yang datang berasal dari berbagai daerah, apalagi wisatawan yang sedang berkeliling Maratua ingin datang ke Kakaban karena sangat dekat. Di hari libur panjang pengunjung bisa 150 orang per hari,” jelas Osdek.
Potensi wisata Laguna Kehe Daing akan terus berlanjut dengan rencana-rencana pengelolaan berkelanjutan. Blue Economy sendiri akan terdorong secara remote jika acara yang direncanakan Pemprov Kaltim sama besarnya seperti Maratua Run beberapa waktu lalu. (Adv/ard)













