TANJUNG REDEB – Kegiatan pembelajaran siswa madrasah selama bulan suci Ramadan diatur secara bertahap, dengan penekanan pada pembinaan mental dan spiritual anak. Pola ini diterapkan agar siswa tetap mendapatkan pendampingan pendidikan sekaligus pembiasaan ibadah selama Ramadan.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Berau, H. Kabul Budiono, mengatakan pengaturan tersebut dirancang untuk menyeimbangkan kegiatan belajar dengan penguatan karakter keagamaan siswa.
“Ramadan adalah momentum penting untuk pembinaan mental dan spiritual anak. Karena itu, madrasah tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembiasaan ibadah dan penguatan karakter,” ujarnya, saat ditemui Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, pada minggu pertama Ramadan siswa madrasah diliburkan. Selanjutnya, pada minggu kedua hingga minggu ketiga, kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung seperti biasa di sekolah. Adapun pada minggu keempat Ramadan hingga pekan pertama Syawal, siswa kembali memasuki masa libur.
Meski memasuki masa libur, Kabul menegaskan siswa madrasah tidak dilepas begitu saja. Madrasah tetap memberikan arahan dan pendampingan agar anak-anak memanfaatkan waktu Ramadan dengan kegiatan positif di rumah.
“Selama ini anak-anak lebih banyak beraktivitas di sekolah. Karena itu, pada minggu pertama Ramadan kami beri ruang agar mereka lebih banyak berkumpul dan berinteraksi dengan orang tua, sekaligus membangun kebiasaan ibadah di lingkungan keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, ketika siswa kembali masuk sekolah pada minggu kedua dan ketiga Ramadan, materi pembelajaran difokuskan pada pembinaan mental dan spiritual. Kegiatan yang direncanakan antara lain pesantren kilat, ibadah bersama, serta kegiatan keagamaan lainnya yang dapat dilaksanakan hingga malam hari.
“Biasanya rangkaian kegiatan itu ditutup dengan i’tikaf, doa bersama, dan ibadah-ibadah khas Ramadan,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa selama masa libur, pola pembelajaran jarak jauh tetap diterapkan melalui penugasan yang berkaitan langsung dengan aktivitas ibadah Ramadan. Guru tetap memantau pelaksanaan kegiatan siswa di rumah.
“Anak-anak diarahkan untuk menjalankan puasa, tadarus Al-Qur’an, Shalat malam, dan ibadah lainnya. Semua tetap dalam pengawasan guru serta didukung peran orang tua,” katanya.
Dengan pola tersebut, meskipun secara administratif siswa dinyatakan libur, proses pembelajaran dan pembinaan karakter tetap berjalan. Kemenag Kabupaten Berau berharap Ramadan menjadi momentum penguatan nilai spiritual sekaligus mempererat kedekatan anak dengan keluarga. (Man)













