Berau Bidik Ekspor Kakao Hingga Ke Jerman

Anews, Kelay – Komoditas kakao di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay dampingan dari Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kalimajari akan dipasarkan ke Jerman dan Bali. Pemasaraannya tersebut, secara simbolis di lepas oleh Bupati Berau Sri Juniarsih di Balai kampung, Kamis (10/6/2021).

Adapun kakao hasil fermentasi tersebut yang dikirim jumlahnya 200 kilogram untuk Jerman dan 300 kilogram untuk Bali.

Bupati Berau Sri Juniarsih mengapresiasi apa yang menjadi capaian tersebut, selaku pemerintah daerah ia sangat mendukung inovasi yang dilakukan oleh lembaga bersama dengan petani kakao sehingga komoditas tersebut bisa dipasarkan hingga ke luar negeri.

“Tentu saja ini jangan sampai disini saja. Ini seharusnya dikembangkan semaksimal mungkin kemudian juga Dinas perkebunan memberi support ke masyarakat untuk lebih mengembangkan pertanian kakao ini,” katanya.

Kata Sri, kalau ke depan pengelolaannya dapat terus berjalan dengan baik dapat sangat bermanfaat dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Ia optimis kalau hasil alam yang berasal di setiap kampung dapat membawa dampak positif lain termasuk untuk mengenalkan wisata setempat.

“Bisa kita bayangkan ini desa wisata, di Berau banyak desa wisatanya kalau kita iringi lagi dengan kuliner yang berbahan dasar sumber daya alam yang ada di Berau ini sangat luar biasa,” ujarnya.

“Banyak hotel disini (Berau) kalau bisa kita masukkan produk-produk yang dibuat oleh hasil masyarakat contohnya seperti Merasa ini dan dikemas dengan bagus itu bisa menempati pasar nasional hingga internasional,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Hubungan Pemerintahan YKAN Berau Gunawan Wibisono menjelaskan, dalam menghasilkan kualitas kakao yang baik dengan standar yang diminta oleh pabrik ia bersama dengan mitra kerja melakukan langkah salah satunya adalah dengan membentuk kelompok tani dengan sistem Kendali Internal atau biasa disebut dengan Internal Control System (ICS).

“Itu yang kita lakukan, mulai dari memilih bagaimana sumber dayanya bagus sampai pengolahan pasca panen, untuk kampung Merasa ini memiliki kualitas produk olahan yang kita anggap sudah standar memenuhi pasar,” kata Gunawan.

Perjalanan kakao di Merasa diawali pada awal 2020, ketika para petani mulai menyadari bahwa tanaman itu bisa memberikan penghasilan tambahan.

“Kita lihat dari awal bagaimana dari masyarakat yang masih belum paham dengan potensi kakao itu kita ubah cara berfikirnya ternyata kakao ini kalau kita olah dengan baik, kita naikkan standar atau kualitasnya ternyata potensial sehingga bisa meningkatkan nilai tambah yang saya hitung-hitung sekitar 30 persen,” pungkasnya.(mik)

Bagikan