Follow kami di google berita

Stok Obat dan Oksigen Dipastikan Aman Selama Peningkatan ISPA

TANJUNG REDEB – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Berau yang sudah tembus di angka 3 ribu lebih, menjadi perhatian khusus Pemkab Berau.

Untuk memastikan pelayanan kesehatan khususnya ISPA ini tetap lancar, Wabup Berau Gamalis mendatangi beberapa puskesmas guna melihat stok obat dan oksigen yang ada.

“Saya dapat laporan kalau kasus ISPA ini selalu ada bahkan setiap harinya di puskesmas. Jadi kita harus pastikan untuk penanganan pasiennya ini maksimal, salah satunya dengan obat dan oksigen,” ujar Wabup Berau Gamalis ditemui di sela-sela kunjungan ke puskesmas pada Kamis (3/9) pagi.

Dari hasil tinjauan ke beberapa puskesmas itu, Gamalis menyebut jika kasus ISPA mengalami peningkatan signifikan. Penyakit yang sebelumnya berada di posisi 10 besar itu, kini menempati peringkat kedua setelah hipertensi.

“ISPA ini yang tadinya berada di rangking ke-9 atau ke-8, hari ini sudah menjadi rangking ke-2 setelah hipertensi. Perkembangannya sudah tiga kali lipat,” ungkapnya.

Peningkatan kasus tersebut terlihat sejak beberapa bulan terakhir hingga memasuki awal September. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah, mengingat paparan asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan.

Dari dua puskesmas yang didatangi, Gamalis memastikan jika stok obat dan oksigen untuk penanganan pasien ISPA khususnya, masih dalam kategori aman.

“Logistik kesehatan ini penting untuk menunjang pelayanan kesehatan yang ada. Jangan sampai pasien ditangani seadanya lantaran kurangnya obat apalagi oksigen,” tegasnya.

Sesuai data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, jumlah pasien ISPA yang tersebar di semua puskesmas yang ada di Bumi Batiwakkal selama periode Juni sampai Agustus 2026 telah mencapai 3.587 kasus.

Selain memantau perkembangan kasus, Gamalis juga menyoroti kualitas udara di dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengukuran Dinas Kesehatan, kadar partikulat PM2.5 di dalam ruangan disebut berada di atas rata-rata.

“PM2.5 itu adalah partikel yang masuk ke dalam hidung, yang tidak bisa disaring oleh bulu hidung. Dia langsung ke paru-paru. Dan ini di dalam ruangan,” jelasnya.

Gamalis menegaskan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama dan segera diantisipasi agar dampak karhutla terhadap kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Ia menyebut kasus ISPA saat ini banyak ditemukan pada anak-anak dan ibu hamil. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat diminta menggunakan masker. (ADV)

Bagikan

Subscribe to Our Channel