TANJUNG REDEB – Salah satu korban kebakaran di Pulau Panjang RT.27 pada Minggu (12/7/2026) siang kemarin meninggalkan kesedihan mendalam bagi salah satu pelajar SD. Adalah Youvant Sebastian, pelajar SDN 019 Tanjung Redeb yang baru saja naik kelas V ini, harus menahan pilu. Rumah kontrakan yang ditinggalinya bersama ibu dan kakaknya, hangus terbakar tak bersisa. Bahkan, Youvant tak bisa menggunakan seragam di hari pertama masuk sekolah.
Tepat di hari naas itu, Youvant dan kakaknya sedang berada di rumah, sedangkan ibunya tengah bekerja mempersiapkan hari pertama masuk sekolah di TK Bayangkari.
“Saya sedang di sekolah TK mempersiapkan masa MPLS, dan siang hari dapat kabar ada musibah itu,” ungkap Yuli, ibu Youvant ketika ditemui Senin (13/7/2026) sore, di rumah salah satu teman yang menjadi tempat tinggal sementara.
Tak seperti biasanya, Yuli mengaku dirinya langsung reflek mengangkat telepon dari anaknya. Padahal, keisengan si anak yang biasa menghubunginya saat bekerja tak pernah dihiraukan.
“Karena anak saya biasanya telepon hanya sekadar iseng, tapi entah mengapa kemarin siang langsung saja saya angkat,” imbuhnya.
Usai menerima telepon itu, Yuli bergegas pulang dan mendapati gang tempat masuk ke kontrakannya sudah penuh sesak bahkan susah untuk bisa masuk. Saat itu, yang ada di pikirannya adalah bagaimana kedua anaknya di rumah saat dirinya sedang pergi bekerja.
Melihat kobaran api yang sudah membumbung tinggi di bangunan awal sumber api, Yuli langsung berlari mendekati kontrakannya. Tak mendapati kedua anaknya, Yuli masih berupaya masuk kontrakan. Yang ada di benaknya saat melihat seragam dan sepatu sekolah milik si anak, dirinya langsung membawa keluar perlengkapan sekolah itu.
“Tapi cuma sebelah saja sepatu yang berhasil saya bawa keluar. Sedangkan seragam merah putih milik Youvant, masih lengkap. Anak-anak ternyata sudah keluar dari rumah sejak api yang muncul masih kecil,” ucapnya terbata-bata.
Meskipun seragam sekolah buah hatinya sempat dibawa keluar, namun kondisi setengah terbakar di baju seragam putihnya, tak memungkinkan untuk dipakai. Youvant pun terpaksa harus masuk sekolah di hari pertama menggunakan baju biasa, yang dipinjamkan oleh temannya.
Sedangkan kakak Youvant yang terdaftar sebagai siswi SMK Berau itu masih menunggu seragam sekolahnya dibuatkan oleh pihak sekolah.
“Sempat anak-anak tak mau masuk sekolah hari ini. Tapi karena memang keadaan musibah, bersyukurnya pihak sekolah memaklumi meskipun mereka ke sekolah tanpa seragam,” katanya.
Selain sebagai guru, Yuli yang berstatus single parent ini juga memiliki usaha kecil-kecilan sebagai pemasang nail art. Kontrakan sebelumnya yang cukup jauh dari pusat kota yakni di Bedungun, sering dikeluhkan pelanggannya. Alasan ini jugalah yang membuatnya harus pindah ke Tanjung Redeb jika ingin usahanya tetap berjalan.
“Pagi saya mengajar, sore sampai malam buka pemasangan nail art. Tapi sekarang semuanya sudah ludes, bahkan perlengkapan usaha saya,” ungkapnya sembari sesekali mengusap air matanya.
Kini, Yuli masih menumpang tinggal sementara di salah satu kediaman wali murid siswanya di TK, yakni di Jalan Karomah Tanjung Redeb. Dirinya masih belum bisa berpikir bagaimana kelanjutan hidupnya bersama kedua buah hatinya nanti.
Yuli mengaku tak mungkin juga kembali ke kampung halamannya di Pontianak, sedangkan kedua anaknya saat ini tengah bersekolah di Berau. Bahkan, pekerjaan dan usaha miliknya pun sudah mulai dikenal orang. Dirinya bertekad untuk tetap bertahan di sini sembari mencari tempat tinggal yang baru. (Ard)













