Follow kami di google berita

Ratusan Kilogram Udang Windu Dipanen dari Pegat Batumbuk

TANJUNG REDEB – Salah satu komoditas unggulan sektor perikanan di Kabupaten Berau adalah udang Windu. Tak tanggung-tanggung, udang jenis ini bahkan sudah mulai memenuhi permintaan pasar luar Berau hingga ke luar negeri.

Terbaru, penerapan budi daya tambak udang Windu di Kampung Pegat Batumbuk menghasilkan ratusan kilogram dalam sekali panen. Ini menunjukkan jika Budi daya udang ternyata memberikan hasil yang cukup luar biasa.

Panen tambak Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026 lalu di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, menunjukkan hasil positif dari penerapan budi daya tambak ramah lingkungan.

Kegiatan ini didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau dalam kerangka Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).

Salah satu lokasi panen berada di tambak milik Abdul Rahman di Kampung Pegat Batumbuk. Tambak tersebut menghasilkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, dan 50 kilogram kepiting bakau.

“Hasil panen kali ini menunjukkan bahwa pengelolaan tambak yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan dapat memberikan hasil yang baik. Selain udang, kami juga mendapatkan bandeng dan kepiting bakau,” kata Abdul Rahman.

Abdul menambahkan, sebelum penerapan pendekatan SECURE, hasil panen udang windu di tambaknya rata-rata berada di kisaran 100 kilogram. Dengan hasil terbaru sebesar 115 kilogram, produksi udang windu mengalami peningkatan sekitar 15 persen meskipun luas area budi daya telah menyusut hingga hanya 20% dari luas semula.

Menurutnya, pendampingan yang diberikan melalui program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas petambak dalam mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Hasil panen tersebut menunjukkan bahwa pendekatan budi daya berbasis ekosistem tidak hanya mendukung produksi komoditas utama, tetapi juga mendorong diversifikasi hasil perikanan yang memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat pesisir.

Melalui pendekatan ini, sekitar 20 persen area dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya, sementara sekitar 80 persen area lainnya dialokasikan untuk pemulihan dan perlindungan mangrove.

Keberadaan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dan pelindung alami kawasan pesisir, tetapi juga berperan menjaga kualitas perairan yang mendukung produktivitas tambak dalam jangka panjang. Dengan demikian, produksi perikanan dan pemulihan ekosistem dapat berjalan secara beriringan. (*/Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel