TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau masih berpotensi mengalami guncangan gempa, terlebih dengan posisi strategis sesar Mangkalihat dan Sangkulirang. Hal ini juga dibenarkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau, Ade Heryadi.
Ade menjelaskan, selain dua sesar tersebut, aktivitas kegempaan di Berau juga dipengaruhi oleh zona pertemuan lempeng di wilayah timur, khususnya di sekitar perairan Maratua.
“Ada juga pengaruh pertemuan Filipina dengan Sulawesi di timur Maratua. Itu daerah-daerah rawan yang memang perlu kita sadari ada kemungkinan potensi jadinya gempa,” ujar Ade saat ditemui di Berau, beberapa waktu lalu.
Wilayah pesisir Berau menjadi kawasan yang paling sering tercatat mengalami aktivitas gempa. Rentang wilayah membentang dari Kecamatan Biduk-Biduk hingga kawasan Muara Berau.
“Tapi memang sebagian besar berkekuatan kecil dan tidak selalu dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Selain kawasan pesisir, sejumlah kejadian gempa di wilayah pedalaman Berau, khususnya di Kecamatan Kelay. Aktivitas gempa juga terjadi di sekitar muara sungai dan wilayah perairan laut, meskipun dampaknya relatif kecil.
Meski memiliki sejumlah sumber potensi gempa, Ade menegaskan bahwa Kabupaten Berau tidak dapat dikategorikan sebagai daerah rawan gempa. Kendati demikian, potensi kegempaan tetap ada dan perlu dipahami oleh masyarakat.
Untuk memantau aktivitas kegempaan, Ade menyampaikan pihaknya telah memasang tiga alat pencatat gempa atau seismograf yang terdapat di Teluk Bayur, Maratua, dan Biduk-Biduk.
“Dengan tiga alat seismograf ini, saya kira pemantauan gempa di Berau sudah cukup untuk satu kabupaten. Data bisa dipantau secara real time dan disampaikan secara akurat kepada masyarakat,” kata Ade.
Sekecil apa pun gempanya, tetap akan diinformasikan. Ini bagian dari upaya mitigasi dan edukasi, agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana. (Ard)













