Kukar – Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan warisan alam Kalimantan Timur, sebanyak 125 bibit pohon ulin ditanam dalam kegiatan bertajuk “Ulin Planting Participant’s 2025.Planting Ulin, Preserving Heritage” di Ambalat Rawa Indah, RT 4, Kelurahan Ambarawang Laut, Kecamatan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (10/10/2025).
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis dengan perusahaan asal Jepang, J. Hayashida Corporation, serta melibatkan masyarakat dan kelompok tani setempat di bawah naungan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Selain penanaman ulin, program ini juga mengelola kawasan seluas 447 hektar yang ditanami berbagai tanaman multi hortikultura.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis, Erwin, mengatakan kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari kesepakatan antara universitas dan pihak Jepang untuk melakukan konservasi ulin bersama masyarakat lokal.
“Program penanaman ulin ini bagian dari kerja sama kami dengan J. Hayashida Corporation. Kami melibatkan masyarakat dan petani di sekitar lokasi untuk ikut menanam dan merawat pohon ulin. Ini langkah awal yang baik untuk menjaga keberlanjutan konservasi,” ujar Erwin.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pendampingan kepada petani melalui koordinasi dengan HKTI, termasuk melibatkan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan akademik seperti praktik lapangan dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pendampingan ini diharapkan dapat memastikan bibit ulin yang ditanam terpelihara dengan baik.
Sementara itu, Wakil Bidang Pertanian DPD HKTI Provinsi Kaltim, Muhammad Alimuddin, menilai program ini memberi manfaat besar bagi petani karena mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman kayu bernilai tinggi seperti ulin.
“Ada diversifikasi tanaman di sini. Selain hortikultura, juga ditambah ulin yang merupakan tanaman tahunan dan sangat langka. Harapan kami, dengan adanya program ini, petani akan mendapat keuntungan jangka panjang sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” jelas Alimuddin.
Dari pihak Jepang, Presiden J. Hayashida Corporation, Motohiro Hayashida, mengungkapkan alasan utama perusahaannya mendukung program ini adalah keinginan untuk meninggalkan warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
“Kami ingin memberikan hadiah bagi generasi ke-10 setelah kami. Pohon ulin butuh ratusan tahun untuk tumbuh, dan kami ingin memastikan kelestariannya. Tahun depan kami menargetkan menanam 10.000 pohon ulin, bahkan bisa bertambah dua kali lipat di tahun berikutnya,” kata Hayashida.
Ia menegaskan proyek konservasi ulin ini bukan hanya investasi jangka pendek, melainkan komitmen berkelanjutan.
“Meskipun saya mungkin tidak hidup lagi 20 atau 25 tahun ke depan, saya ingin ulin yang kami tanam tetap hidup. Itu mimpi saya agar orang-orang di masa depan mengingat program ini sebagai warisan yang membawa kebahagiaan,” pungkasnya.
Kegiatan penanaman ulin ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengembalikan kejayaan pohon khas Kalimantan tersebut, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam upaya pelestarian sumber daya alam berkelanjutan. (Nain)













