TANJUNG REDEB – Selain objek wisata karst dan danau yang terkenal di Kampung Merabu, ada satu tradisi yang hingga kini masih terus dilestarikan yakni Manugal. Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata dengan kearifan lokal
Manugal merupakan sebuah metode pertanian tradisional Suku Dayak untuk menanam padi, dengan menggunakan kayu yang dibuat seperti alu atau antan yang dilancipkan ujungnya. Sehingga mudah untuk membuat lubang di tanah yang akan ditanami padi.
Manugal biasanya dilaksanakan pada kisaran bulan Oktober-November setiap setahun sekali secara bergotong royong atau handep. Dalam manugal, masyarakat Dayak dari usia tua maupun muda, baik laki-laki maupun perempuan, bergotong royong untuk menanam padi di atas lahan yang sudah dipersiapkan sebagai lokasi manugal.
Dalam pembagian tugas manugal, kaum laki-laki melakukan proses manugal (melubangkan lahan untuk benih) dan kaum perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal yang sudah di buat oleh para laki-laki, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, dimana setiap lubang diisi 5-7 benih. Lubang yang dibuat dari kegiatan manugal dibiarkan terbuka agar air dapat mengalir ke dalam lubang hasil manugal pada saat hujan.
Lahan yang biasanya dibuka untuk manugal yakni hutan (himba) dan lahan yang sudah pernah digunakan untuk berladang sebelumnya. Jika manugal akan dilakukan di himba, maka akan dilakukan pembersihan semak belukar dan penebangan pohon besar di lokasi manugal.
Kemudian, dibangunlah parit yang nantinya akan menjadi sekat yang berfungsi sebagai pencegah kebakaran tak terkendali, sekaligus menjadi pembatas antar lahan yang dibagikan kepada para peladang. Setelah selesai lahan yang telah dibersihkan serta sisa tebasan akan dibiarkan kering selama sebulan atau menjelang musim hujan yang berlangsung selama 2-3 bulan.
Setelah masa pengeringan selesai, sisa tebasan dibakar untuk dijadikan sebagai “penyubur tanah”. Penentuan waktu penugalan dan penanaman ditentukan oleh seluruh anggota handel setelah proses pembakaran selesai dan biasanya dilaksanakan ketika musim hujan sudah datang.
Pembakaran tebasan lahan, dilaksanakan dengan menggunakan sistem bernama handel. Sistem handel adalah “pengelolaan lahan gambut secara berkelompok di satu hamparan lahan yang luas pada satu sungai kecil mulai dari pemilihan lokasi tanah, penebasan, penebangan, pengeringan, pembakaran, penanaman sampai pemananen”.
Dalam manugal, ada berbagai ritual yang dilaksanakan sebelum, ketika dan sesudah melaksanakan manugal. Kebudayaan manugal diimplementasikan oleh berbagai Suku Dayak yang berbeda, ritual yang dilakukan pun juga berbeda tergantung dari mana mereka berasal. (Adv/ard)













