JAKARTA – Salah satu hasil kerajinan dari Kabupaten Berau yang terus menunjukkan eksistensinya di tingkat nasional adalah tenun Berau. Terbaru, hasil tenun itu ditampilkan dalam pameran Swarna Wastra Nusantara pada 9-11 Juni 2025 lalu.
Membawa hasil karya khas tenun bercorak Berau, stand milik Dekranasda Berau bersama Diskoperindag Berau ini banyak mendapatkan kunjungan bahkan menjadi salah satu stand yang mencuri perhatian dalam ajang tersebut.
Hasil tenun milik M@m@be dari Kampung Tumbit Melayu Kecamatan Teluk Bayur ini mendapatkan kesempatan untuk ikut mejeng dalam pameran tersebut.
“Kami bersyukur sekali kembali diberi kepercayaan membawa dan menampilkan serta memperkenalkan hasil tenun dari Berau ini. Ini juga menjadi ajang memperkenalkan dan mempromosikan budaya Berau yang tertuang dalam hasil tenunan,” ujar pendiri Tenun M@m@be, Bernadetha Dua Lise dan Silva atau yang lebih dikenal Mama Sonya, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Pameran ini sendiri merupakan ajang yang digelar oleh Kementerian Perindustrian, yang bertujuan untuk memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) melalui berbagai upaya promosi, pemasaran, serta perluasan akses pasar bagi produk wastra dan kriya Nusantara.
Langkah strategis ini dilakukan guna meningkatkan daya saing industri kreatif berbasis budaya sekaligus memperkuat posisi produk lokal Indonesia di pasar domestik maupun global.
Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Loemongga Kartasasmita menyampaikan, wastra Nusantara memiliki relevansi yang kuat dengan tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion yang saat ini berkembang pesat di berbagai negara.
“Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk yang berkelanjutan, wastra Nusantara menawarkan keunikan, kualitas, serta nilai budaya yang tidak dapat tergantikan oleh produk massal. Selain itu, industri kriya Indonesia juga memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional dan semakin mendapat apresiasi di pasar global,” kata Loemongga pada pembukaan Pameran Swarna Wastra Nusantara.
Menurutnya, sebagian besar produk wastra Indonesia masih diproduksi dengan teknik tradisional serta memanfaatkan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Meskipun proses pembuatannya memerlukan waktu relatif panjang, produk wastra memiliki kualitas tinggi, daya tahan kuat, dan nilai budaya yang dapat diwariskan lintas generasi.
“Keunggulan tersebut menjadikan wastra Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di pasar nasional maupun internasional. Karena itu, kita perlu terus mengangkat dan mempromosikan budaya wastra sebagai bagian dari tren fesyen berkelanjutan dunia,” tutur Loemongga.
Pameran berlangsung pada 9–11 Juni 2026 di Plasa Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta. “Tema Tenun dan Produk Kriya Lintas Zaman menjadi wujud nyata kolaborasi antara tradisi dan inovasi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Nusantara agar terus berkembang dan relevan bagi generasi mendatang,” ungkap Loemongga.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, SWN 2026 menampilkan produk unggulan dari 45 IKM yang bergerak di bidang tenun, songket, batik, aksesori, serta berbagai produk kriya lainnya yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.
Peserta pameran berasal dari berbagai daerah dan merupakan binaan kementerian, lembaga, BUMN, Dekranas dan Dekranasda, serta pemerintah daerah. Kegiatan ini dikemas secara modern dan inklusif guna memperluas jangkauan promosi produk sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis dan konsumen. (*/Ard)













