Follow kami di google berita

Sutami: “Sejarah Kesultanan Sudah Seharusnya Diangkat Kembali”

TANJUNG REDEB – Berbagai upaya dalam melestarikan wisata budaya di Kabupaten Berau terus dilakukan. Terbaru, ide pembuatan film tentang sejarah Kesultanan di Berau pun muncul.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kabupaten Berau pada Selasa (23/2/2026) siang, yang membahas upaya pelestarian sejarah dan penguatan identitas daerah, anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, menekankan pentingnya mengangkat kembali perjuangan Sultan Sambaliung agar lebih dikenal generasi muda.

Dalam penyampaiannya, Sutami mengapresiasi komunitas dan organisasi masyarakat yang telah berinisiatif mengangkat kembali sejarah tokoh daerah.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dari edukasi publik, terlebih masih banyak masyarakat yang belum memahami jejak perjuangan Sultan Sambaliung dalam sejarah Berau.

“Kalau hanya disampaikan di ruang-ruang terbatas, tentu jangkauannya tidak akan luas. Tetapi kalau dikemas dengan baik, bahkan dalam bentuk film atau dokumentasi yang bisa disaksikan masyarakat luas, tentu dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Ia menyinggung bagaimana nama Sultan Sambaliung telah diabadikan dalam berbagai simbol daerah, termasuk menjadi inspirasi penamaan satuan militer Batalyon 613. Namun demikian, menurutnya, penghormatan simbolik saja tidak cukup tanpa diiringi upaya konkret untuk mengenalkan kisah perjuangannya secara lebih mendalam.

Sutami juga mengulas kembali perjalanan sejarah Sultan Sambaliung yang pernah diasingkan ke Makassar. Ia menilai, kisah tersebut merupakan bagian penting dari narasi perjuangan yang harus didokumentasikan secara serius agar tidak hilang ditelan zaman.

“Generasi sekarang perlu tahu bagaimana perjuangan masa lalu. Jangan sampai kita bangga memakai nama besar, tetapi tidak memahami nilai perjuangan di baliknya,” jelasnya.

Menurutnya, jika dikemas dengan serius dan melibatkan sumber daya manusia yang kompeten, karya tersebut berpotensi masuk dalam ajang penghargaan atau nominasi tingkat nasional. Namun ia mengingatkan agar prosesnya tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

“Kita harus serius. Jangan sampai pembuatan film ini terkesan asal-asalan. Harus ada riset yang kuat, komunikasi yang baik dengan sejarawan, budayawan, dan pihak-pihak terkait,” pungkasnya. (Ta)

Bagikan

Subscribe to Our Channel