SMP NEGERI 3 KASAI SEKOLAH PERTAMA TATAP MUKA DI MASA ADAPTASI BARU

Hari pertama tatap muka SMPN 3 Kasai

ANEWS, Berau – SMP Negeri 3 Kasai yang terletak di Jalan H. Agus Salim Kasai, Kecamatan Pulau Derawan – Berau dipastikan menjadi sekolah pertama yang melaksanakan proses belajar-mengajar tatap muka di masa adaptasi baru pandemi ini, dimana semua murid dan tim pengajar wajib melaksanakan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, seperti mencuci tangan, gunakan hand sanitizer, memakai masker dan jaga jarak. Demikian konfirmasi yang diterima Anews dari Dr. H. Suprapto, M.Pd, Sekretaris Diknas Kabupaten Berau, pada Senin, 26/10/2020 di kantornya.

cek suhu tubuh sebelum memulai proses belajar mengajar

Suprapto membenarkan bahwa baru ada satu sekolah, yaitu SMPN 3 Kasai, yang diberikan izin untuk melaksanakan proses belajar-mengajar secara tatap muka di Kabupaten Berau, dari sejumlah sekolah yang sudah mengajukan permohonan.

Salah satu pertimbangannya, menurut Suprapto adalah Kepmendikbud yang memberikan lampu hijau untuk melaksanakan belajar-mengajar tatap muka bagi sekolah-sekolah yang berada khususnya di daerah zona hijau, dan di daerah-daerah pedalaman dimana belum tersedianya jaringan internet/wifi.

Dr. H. Suprapto, M.Pd, Sekretaris Diknas Kabupaten Berau

“Beda kalau di Kecamatan Tanjung Redeb dan sekitarnya masih belum dimungkinkan,” ujar Suprapto.

Dan sistem belajarnya hanya 3 jam saja sehari, kemudian guru pengajar memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah siswa masing-masing.

Pada saat bersamaan, Peri Kombong, SE, anggota DPRD Berau dari Fraksi Gerindra saat dimintai komentarnya terkait sekolah tatap muka, menyampaikan bahwa memang pihaknya sudah hearing dengan Diknas membahas kemungkinan sekolah melaksanakan proses belajar-mengajar secara tatap muka di Kabupaten berau.

Peri Kombong, SE, anggota DPRD Berau

Peri sependapat dengan diknas bahwa bagi sekolah-sekolah yang ada wilayah pedalaman, bisa melakukan sekolah tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, karena beberapa pertimbangan seperti, belum adanya jaringan internet, para orang tua murid kesulitan mendampingi anaknya dalam belajar daring (faktor SDM) dan yang lebih penting bahwa daerah pedalaman jarang atau tidak banyak berinteraksi atau didatangi pendatang dari daerah luar, atau dari daerah zona merah atau hitam.  Sehingga daerah-daerah seperti ini masih di zona hijau

“Yang penting itu adalah bahwa dirasakan keluar masuknya orang luar itu masih sangat kurang, sehingga kita bisa kategorikan bahwa masih zona hijau, kata Peri.

Baik Suprapto dan Peri Kombong berharap agar dengan dibukanya sekolah tatap muka, para siswa dan tim pengajar tetap dan selalu memperhatikan protokol Kesehatan.

Para pengajar memberikan materi sekitar 3 atau 4 jam, kemudian mengerjakan di rumah.(jul/tasya)

Bagikan