PANDEMI COVID-19 SEBABKAN KENAIKAN HARGA PAKAN DAN PENURUNAN OMZET PENJUALAN TELUR PUYUH

Anews, Berau – Senin (4/1/2021), pandemi covid-19 berdampak bagi seluruh aspek kehidupan, salah satunya bagi peternak burung puyuh.

Meskipun harga penjualan telur puyuh normal, namun diperparah dengan naiknya harga pakan dan susahnya mencari jagung giling sebagai pakan alternatif guna menekan harga produksi dari pabrik.

Muhammad Andi Alfian, peternak telur puyuh mengungkapkan, saat ini penjualan telur puyuh hanya 3 piring dalam dua hari, sebelum wabah covid-19 penjualan telur puyuh mencapai 5 sampai 10 piring dalam satu hari.

“Sebelum ada wabah ini mas biasanya sehari itu saya bisa jual 5 sampai 10 piring, sekarang ini dua hari cuma 5 piring mas,”

“Sudah satu bulan ini saya kesusahan cari jagung. Saya pakai jagung untuk campuran pakan, kalau beli pakan pabrik kan mahal 1 karung 50 kilogram harga 440 ribu, kalau dicampur jagung giling saya masih dapat untung kurang lebih 420 ribu dalam satu minggu untuk 700 ekor burung puyuh, kalau beli pakan pabrik ya saya tidak dapat untung,” tuturnya.

Alfian menambahkan jika kondisinya seperti ini terus dirinya akan berhenti berternak. Apalagi beberapa burung puyuh sudah dipotong dan sekarang hanya tersisa 200 ekor. Saat ini peternak burung puyuh mengandalkan pakan pabrik dan tidak mendapatkan untung. Dirinya pun berharap agar pandemi covid-19 segera berakhir, sehingga penjualan telur puyuh bisa normal kembali dan roda ekonomi kembali pulih.

Saat ditemui ANews agen jagung di jalan Pemuda Gg. Pinang Merah, Muhammad Asbar mengatakan kelangkaan jagung itu tidak hanya di Kabupaten Berau saja namun di Sulawesi juga demikian.

“Karena kurangnya masa panen petani jagung, insyaallah nanti awal februari jagung banjir lagi,” ungkapnya. (alfian)

Bagikan
bodrum escort - eskişehir esc - mersin escort - mersin escort bayan - mersin esc