TANJUNG REDEB – Keterpaduan Layanan Digital Nasional mulai diterapkan di semua sektor, termasuk pariwisata. Salah satunya adalah dengan inovasi-inovasi berbasis digital yang mencakup semua hal seputar wisata, seperti pencatatan data wisatawan dan yang lainnya.
Di Kabupaten Berau sendiri ada satu inovasi yang dikembangkan dan mulai berjalan sejak tahun lalu. Adalah SIDEWI BERAU, yang merupakan sistem berbasis WebGIS yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan dan pengawasan Daerah Tujuan Wisata (DTW) secara spasial dan informatif.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi tata kelola data wisata, tetapi juga secara langsung mendukung pencapaian Asta Cita (delapan agenda prioritas pembangunan nasional).
“Jadi semuanya sekarang terdata secara digital. Dengan begini maka pengelolaan wisata di Berau lebih tertata dan akurat tentunya,” ujar Kadisbudpar Berau, Ilyas Natsir ditemui beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, dasar hukum pengembangan inovasi ini adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Peraturan Bupati Berau Nomor 34 Tahun 2023 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2024, dan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital Nasional.
Inovasi ini hadir juga berdasarkan beberapa latar permasalahan seperti belum adanya digitalisasi data dan sistem pencatatan terpadu. Dimana data pariwisata selama ini hanya tersebar di dokumen konvensional yang sulit diakses lintas instansi, dan tidak dilengkapi informasi spasial yang penting untuk perencanaan wilayah.
Permasalahan lainnya adalah tidak terhubung dengan zonasi tata ruang maupun kawasan lindung, sehingga berpotensi menimbulkan kebijakan yang tidak sesuai dengan RTRW. Pengumpulan data masih manual, memakan waktu, biaya besar, rawan salah catat, dan sering terjadi duplikasi.
Kondisi ini mendorong perlunya inovasi digital berupa sistem yang mampu mengintegrasikan data spasial dan nonspasial secara interaktif, efisien, dan mudah diakses.
“Dengan adanya inovasi ini juga, maka kebutuhan wisatawan akan informasi real-time dan mudah diakses. Selain itu juga tuntutan transparansi dan akuntabilitas data publik. Juga pentingnya digitalisasi sebagai strategi promosi wisata global,” tambahnya. (Adv/Ard)













