BAPELITBANG BERAU GELAR RAKOR PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Assisten II Sekab Berau, Samsul Abidin

ANEWS, Tanjung Redeb – Menanggulangi garis kemiskinan di Kabupaten Berau, Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Berau, menggelar rapat membahas mengenai percepatan penanganan hal tersebut, Kamis (26/11/2020).

Dari pembahasan yang digelar di ruang rapat Sangalaki, Kantor Bupati Berau diketahui, dari tahun 2015 sampai dengan 2019, angka kemiskinan di Berau mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Hal tersebut diketahui, jika di 2015 angka kemiskinan di Berau mencapai 5,33 persen. Sedangkan 2019 yakni 5,04 persen. Dengan penurunan itu pula, di tahun 2019, Berau menduduki peringkat ke 4 terendah, setalah Balikpapan, Samarinda dan Bontang, untuk angka kemiskinan.

Pelaksana jabatan (Pj) Assisten II Sekab Berau, Samsul Abidin mengatakan, melalui rapat ini pemkab akan melakukan evaluasi tentang kondisi kemiskinan di Berau. Sebab ia cukup yakin jika penurunan angka kemiskinan di Berau dalam lima tahun terakhir sudah berhasil dicapai.

“Di tengah kondisi perekonomian yang melemah, jangan dijadikan sebagai alasan untuk mengurangi semangat kerja untuk berupaya memberantas kemiskinan. Jadikan ini sebagai motivasi untuk penanggulangan kemiskinan,” jelasnya.

Ia menekankan, melalui program pemberantasan kemiskinan sudah harus direncanakan dengan matang. Diantaranya yakni wacana untuk memaksimalkan anggaran yang ada untuk meningkatkan fleksibilitas program, dengan mengedepankan asas dan manfaat untuk masyarakat luas.

“Data menunjukan, perlu banyak perubahan yang dilakukan, mulai dari pendidikan dan pendapatan kapita dalam rumah tangga,” katanya.

Sementara itu, dikatakannya, kemiskinan bisa dilihat dari taraf pendidikan, kesehatan, angkatan kerja.

Untuk pendidikan sendiri dilihat dari angka partisipasi kasar (APK) pendidikan yakni untuk sekolah dasar tahun 2018 sebesar 108,94 persen dan 2019, 106,89 persen.

SMP, tahun 2018 yakni 81,42 persen dan 2019 82,85 persen. Untuk SMA sendiri yakni 2018 sebesar 89,69 persen dan 2019, 93,50 persen.

Sedangkan untuk angka partisipasi murni (APM) yakni tingkat SD, tahun  2018 sebesar 99,23 persen, tahun 2019, 99,06 persen. SMP 2018, 79,19 persen, sedangkan 2019 mencapai 78,86 persen. Untuk SMA pada 2018 sebesar 71,32 persen dan tahun selanjutnya 70,02 persen.

Samsul mengatakan, jika dilihat dari data yang ada, untuk APM sendiri, jenjang SMP, tentu menjadi pertanyaan, lantaran masih banyak anak usia sekolah yang memilih putus sekolah.

“Ini yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk Dinas Pendidikan dan juga Pemkab Berau,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Samsul mengatakan, untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Berau sudah cukup baik. Data menunjukan, pada tahun 2018, angka harapan hidup berada di 71,68 tahun. Sedangkan di tahun 2019 mengalami peningkatan yakni 71,94 tahun.

“Dalam hal ini, tentu yang berperan Dinas Kesehatan. Tetapi pemda jangan lepas tangan. Bagaimana koordinasi dengan puskesmas serta tenaga kesehatan yang ada. Jika bisa, di 2021, angka harapan hidup berada di 85 tahun,” tuturnya.

Terkait dengan angka pengangguran, Samsul mengatakan, terdapat peningkatan capaian tingkatan partisipasi angkatan kerja (TPAK), yakni di tahun 2018 mencapai 67,85 persen, sedangkan 2017 hanya 67,38 persen.

“Sekarang begini, masuknya investor ke Berau tentu membuka peluang adanya lapangan pekerjaan. Disinilah seharusnya peran masyarakat, yakni tidak perlu menolak investor yang mau masuk,” pungkasnya. (myk)

Bagikan