Sekolah Bisa Komplain Menu hingga Kurir MBG Via Aplikasi

JAKARTA – Carut marutnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa wilayah di Indonesia, membuat Badan Gizi Nasional (BGN) harus lebih pro aktif.
Kepala BGN Sudaryono ungkap pihaknya tengah menyiapkan dan mengembangkan aplikasi penilaian terkait program MBG. Aplikasi ini ditujukan untuk kepala satuan pendidikan atau kepala sekolah dan guru.
“Nantinya kami itu akan memberikan semacam aplikasi kepada Bapak-Ibu kepala sekolah untuk kemudian, semacam seperti di ojek online, Bapak-Ibu guru itu bisa ngasih bintang, bisa ngasih catatan terhadap si dapur itu. Ini lagi kita kembangkan,” tuturnya.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono kala memberikan pengarahan dalam Webinar Literasi Gizi bagi Kepala Sekolah yang disiarkan secara daring melalui laman YouTube BGN RI, dikutip Rabu (16/9/2026).
Sudaryono menilai pengembangan aplikasi ini ditujukan untuk mempermudah proses pemantauan MBG. Aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan dan BGN memerlukan waktu 1-3 minggu ke depan.
“Sekarang ini kami sudah mengembangkan semacam aplikasi kurir MBG, di mana MBG yang dikirim ke sekolah itu pada saat serah terima itu ada prosesnya, sehingga kita bisa memonitor. Tentu saja kami perlu waktu, mungkin 1-3 minggu ini,” bebernya.
Melalui aplikasi ini, kepala sekolah bisa memberikan penilaian terhadap pelayanan dapur MBG yang menjadi mitra sekolah. Penilaian bisa berkaitan dengan menu hingga masalah waktu pengantaran.
“Apakah menunya jelek, apakah suka terlambat dan lain sebagainya, itu bisa kemudian diberi bintang, kemudian dikasih catatan ya,” ucap sosok yang akrab dipanggil Mas Dar itu.
BGN menurutnya ingin mengetahui tingkat kepuasan konsumen MBG melalui aplikasi ini. Ia menekankan peserta didik adalah konsumen yang harus menerima MBG dengan kualitas baik.
“Kalau di dapur lain peserta didik bisa mendapatkan MBG yang bagus, maka kenapa di tempat lain enggak bisa bagus? Maka kami ingin lebih mendapatkan feedback dari Bapak-Ibu kepala sekolah semua,” sampainya.
Pada kesempatan itu, Sudaryono juga meminta agar kepala sekolah tidak segan untuk melaporkan setiap kesalahan dan kecurangan yang dilakukan dapur SPPG kepada BGN. Ia mengakui memang ada dapur SPPG yang tidak melakukan perbaikan setelah mendapat teguran sekolah.
“Saya minta dan saya mohon kepada Bapak Ibu Kepala Sekolah untuk tidak segan-segan melaporkan itu kepada kami, karena kadang-kadang kalau ngomong sama dapur SPPG-nya sudah dibilangin Bapak Ibu guru, Bapak Ibu kepala sekolah engga bisa nutup dapur, maka mereka tidak mengindahkan itu. Maka harus dilaporkan ke saya,” tegasnya.
Laporan juga bisa dilakukan melalui email melalui [email protected]. Protes bisa langsung disampaikan ke BGN dengan ditembuskan langsung ke Sudaryono.
BGN juga akan menyiapkan saluran WhatsApp khusus agar komunikasi antara pemerintah dan kepala sekolah serta guru bisa terjalin dengan baik. Jika aplikasi sebelumnya telah rampung, Sudaryono menyebut akan kembali menyapa kepala sekolah dan guru.
“Untuk kemudian bisa memberikan feedback manakala di dapur-dapur yang melayani sekolah Bapak-Ibu pimpin ini itu kemudian apakah bagus, enggak bagus, kurang bagus, menunya ini dan lain sebagainya bisa kami dapatkan,” bebernya.
“Dapur itu memang tidak takut ya sama kepala sekolah, tapi dapur itu takutnya dengan BGN. Maka izinkan kami itu kemudian bisa ter-connect dengan semua kepala sekolah yang ada di seluruh Indonesia, sehingga nanti manakala ada hal-hal komplain, masalah keluhan, dan lain sebagainya bisa kami follow up,” imbuh Sudaryono lagi. (*)




















