Raja Pertama “Dihidupkan” Kembali di HUT Berau

TANJUNG REDEB – Salah satu daya tarik yang ada di Berau adalah adat budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan. Bahkan, di setip acara besar seperti Paripurna dan peringatan HUT Berau, budaya yang dirangkum dalam bentuk tarian, selalu dihadirkan.

Seperti pada HUT ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb, tarian kolosal bertema raja pertama di Berau yakni Baddit Dipattung, dibawakan dengan apik oleh tim penari.

Lapangan Pemuda Tanjung Redeb seketika hening pada Selasa (15/9) pagi. Saat para penari mulai memasuki lapangan dengan baju adat tiga suku yakni Banua, Bajau dan Dayak, memukau penonton yang hadir menyaksikan puncak acara tersebut.

Total 100 penari bergerak mengikuti musik yang ada. Penampilan Baddit Dipattung dikemas dalam bentuk tarian sarat akan kisah perjalanan hidupnya sebagai raja pertama Berau.

Menurut sejarah Berau, Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan Isterinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu Bara PT. Berau Coal).

Aji Raden Suryanata Kesuma menjalankan masa pemerintahannya tahun 1400 – 1432 dengan adil dan bijaksana, sehingga kesejahteraan rakyatnya meningkat. Pada masa itu dia berhasil menyatukan wilayah pemukiman masyarakat Berau yang disebut Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut dan Banua Rantau Sewakung.

Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan dia disegani lawan maupun kawan. Untuk mengenang jasa Raja Berau yang pertama ini, Pemerintah telah mengabdikannya sebagai nama Korem 091 Aji Raden Surya Nata Kesuma yang Rayon Militer Kodam VI/TPR.

Setelah beliau wafat, Pemerintahan Kesultanan Berau dilanjutkan oleh putranya dan selanjutnya secara turun temurun keturunannya memerintah sampai pada sekitar abad ke-17. Kemudian awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Namun kegiatan itu dilakukan dengan politik De Vide Et Impera (politik adu domba). Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur. (*)

Bagikan

Subscribe to Our Channel