TANJUNG REDEB – Dampak Karhutla yang sangat terlihat di sektor kesehatan, membuat Pemkab Berau harus mengambil langkah cepat. Peningkatan kasus ISPA yang menembus angka tiga ribu lebih, menjadi fokus yang ada saat ini.
Karena usia anak-anak dan lansia menjadi sasaran ISPA terbanyak, kegiatan belajar mengajar di sekolah pun dialihkan menjadi sistem Belajar Dari Rumah (BDR). Kini, kegiatan yang melibatkan anak usia batita dan balita pun ditiadakan.
Berdasarkan surat edaran Dinas Kesehatan Berau bernomor 440/2532 / Kesmas-Promkes dengan isi penundaan sementara pelayanan pos pelayanan terpadu (Posyandu), maka semua pelayanan setiap sebulan sekali itu pun dialihkan ke puskesmas masing-masing area.
“Surat itu ditujukan kepada semua puskesmas di Berau. Hal itu dilakukan karena melihat hasil pemantauan kualitas udara akibat asap Karhutla yang dilaksanakan oleh UPTD Labling,” ujar Kadinkes Berau, Lamlay Sarie ketika dikonfirmasi Jumat (4/9).
Dari hasil pantauan pada tanggal 28-29 Agustus kemarin, ISPU termasuk Kategori Tidak Sehat dan Pemantauan Kualitas Udara dalam Ruangan (KUDR) yang dilaksanakan oleh Kesling Puskesmas sampai dengan tanggal 2 September 2026, menunjukkan bahwa kualitas udara dalam ruang di sebagian besar Puskesmas, sekolah, dan pemukiman berada pada kategori Sangat Tidak Sehat terhadap partikulat PM 2.5.
“Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat terutama kelompok rentan atau beresiko yaitu Bayi, Balita, Ibu Hamil, Lansia dan Penderita gangguan ISPA,” bebernya.
Dampaknya, semua aktivitas yang berhubungan dengan kategori beresiko itu, terpaksa harus ditunda sampai kualitas udara kategori baik dan memungkinkan untuk dilaksanakan Posyandu.
“Meskipun tak ada posyandu, kader Posyandu tetap melaksanakan pemantauan Balita binaan, agar balita yang mengalami gangguan kesehatan dapat segera ke puskesmas atau fasyankes terdekat, serta meningkatkan edukasi ke masyarakat. (Ard)













