TANJUNG REDEB – Akses jalan menuju RT 17 Kelurahan Gunung Tabur, menjadi salah satu persoalan utama yang disampaikan warga saat rapat dengar pendapat bersama DPRD Berau, Senin (18/5/2026).
Jalan tersebut dinilai mendesak karena menjadi jalur utama masyarakat untuk aktivitas harian, termasuk mengangkut hasil pertanian dari wilayah setempat.
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P. Mangunsong menegaskan pihaknya siap mendorong pembangunan jalan tersebut melalui pokok-pokok pikiran (pokir) dewan. Namun, hal itu dapat dilakukan apabila trase jalan yang diusulkan tidak terkendala status kawasan atau masuk wilayah dengan aturan khusus.
Menurutnya, persoalan status lahan menjadi tahapan penting yang harus dipastikan lebih dulu, karena berkaitan dengan kewenangan penganggaran maupun pelaksanaan pembangunan.
“Kalau memang itu tidak terbentur saya siap masukkan pokir saya. Karena akses jalan ini memang kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Rudi mengatakan, akses jalan di RT 17 bukan sekadar fasilitas penunjang, tetapi berkaitan langsung dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan perkebunan, sehingga kondisi jalan sangat menentukan distribusi hasil panen.
Ia menilai selama ini masyarakat masih mengalami hambatan saat mengangkut hasil produksi keluar wilayah. Ketika akses rusak atau belum memadai, biaya angkut menjadi lebih tinggi dan hasil panen sulit dipasarkan dengan baik.
“Kalau jalannya baik, hasil panen masyarakat bisa cepat keluar,” katanya.
Dalam pembahasan itu, Rudi juga menyoroti perlunya sistem yang dapat memotong rantai distribusi hasil pertanian. Menurutnya, selama ini petani masih bergantung pada pola pemasaran yang panjang sehingga nilai jual di tingkat petani kurang optimal.
Ia mengusulkan adanya skema koperasi atau kerja sama yang dapat langsung menampung hasil produksi warga, sehingga petani tidak selalu bergantung pada tengkulak maupun jalur distribusi yang terbatas.
“Kalau ada koperasi, hasil panen bisa langsung ditampung,” jelasnya.
Selain jalan, persoalan distribusi pupuk juga menjadi keluhan warga yang disampaikan dalam forum tersebut. Menurut Rudi, masalah pupuk bukan hanya dirasakan masyarakat RT 17, tetapi hampir seluruh petani di Berau mengalami persoalan serupa.
Kelangkaan distribusi dan sulitnya memperoleh pupuk dinilai berdampak pada produktivitas pertanian. Karena itu, ia meminta persoalan ini mendapat perhatian khusus agar produksi masyarakat tidak terganggu.
“Distribusi pupuk ini memang hampir semua petani mengeluh. Ini harus ada solusi,” tegasnya.
Ia menegaskan aspirasi warga harus segera ditindaklanjuti dengan program nyata, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau memang memungkinkan, kita perjuangkan,” pungkasnya.(Akm)













