TANJUNG REDEB – Angka inflasi di Kabupaten Berau termasuk masih sangat tinggi. Di akhir 2025 lalu, tercatat di angka 2,82 persen. Angka ini dipengaruhi beberapa faktor salah satunya yakni ikan.
Musim penangkapan yang mempengaruhi harga jual ikan di pasaran, otomatis juga mempengaruhi angka inflasi di daerah. Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan komoditas ikan kerap menjadi penyumbang inflasi karena produksinya bergantung pada musim.
“Dalam inflasi kemarin memang ikan itu naik turun terus dan menjadi penyumbang terbesar. Tapi perlu diketahui penangkapan ikan itu ada musimnya,” jelasnya ditemui beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia memastikan ketersediaan ikan secara umum masih dalam kondisi terkendali. Saat musim tangkap melimpah, produksi nelayan bahkan melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat Berau.
Untuk rata-rata kebutuhan konsumsi ikan masyarakat Berau hanya sekitar 4–5 ton per hari, sementara hasil tangkapan bisa mencapai 7–10 ton.
“Kalau tangkapan besar, konsumsi kita tidak habis. Sisanya harus segera dikirim keluar daerah karena ikan cepat membusuk,” jelasnya.
Distribusi ke luar daerah seperti Kutai Timur, Bontang, hingga wilayah lain menjadi solusi agar hasil tangkapan tidak terbuang. Namun kondisi itu berdampak pada ketersediaan di pasar lokal ketika pasokan tidak terserap optimal atau pengiriman lebih dominan keluar.
Majid mencontohkan komoditas ikan layang yang menjadi salah satu penyumbang inflasi. Harga di tingkat nelayan sebenarnya tidak terlalu tinggi, tetapi melonjak saat sampai ke konsumen karena rantai distribusi yang panjang.
Saat ini harga ikan layang berkisar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, bahkan bisa turun ke Rp30 ribu jika kualitas kesegaran menurun. Namun ketika pasokan kosong, harga bisa melonjak dan memicu inflasi.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga saat musim paceklik, Pemkab Berau telah menyiapkan langkah pengganti pasokan melalui peningkatan dan pengembangan produksi ikan air tawar.
Jenis budidaya seperti ikan nila, emas, patin, dan lele akan didorong untuk menutup kekurangan pasokan ikan laut di pasar.
“Budidaya itu tidak harus selalu menggunakan kolam. Bisa juga memakai gentong maupun terpal sebagai alternatif,” ucapnya.
Selain faktor musim, distribusi hasil tangkapan nelayan ke luar daerah juga memengaruhi stabilitas harga lokal. Majid mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak nelayan memilih menjual ke Samarinda, Bulungan, Malinau, hingga Bontang karena sistem pembayaran dinilai lebih menguntungkan.
“Kebanyakan nelayan itu suka mengirim hasil tangkapannya keluar, karena kalau disana sistem pembayaran secara langsung cash, tapi kalau di sini biasanya dipasarkan dulu baru dibayar,” pungkasnya.
Perbedaan sistem pembayaran itu membuat arus distribusi ikan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan pemerintah daerah. (Ard)













