TALISAYAN – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan Tahun 2026 di Kecamatan Talisayan menyoroti persoalan peningkatan jalan, penegasan batas kampung, hingga pengelolaan sampah sebagai prioritas pembangunan wilayah.
Camat Talisayan Yusup Gunawan menyampaikan, usulan utama dalam Musrenbang mencakup perbaikan jalan utama, jalan kampung, serta jalan usaha tani agar dapat berfungsi optimal. Selain itu, sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi juga menjadi perhatian.
“Musrenbang bertujuan menyepakati prioritas pembangunan kampung. Meski tidak semua menjadi kewenangan kampung, tetap kita dorong sebagai prioritas pembangunan kecamatan,” ujarnya, Kamis (5/6/2025).
Di tengah efisiensi anggaran, Yusup menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kampung dan Pemerintah Kabupaten Berau dalam menyepakati program prioritas yang realistis dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kecamatan Talisayan memiliki 10 kampung, terdiri dari tiga kampung berstatus mandiri dan tujuh kampung berstatus maju. Dengan luas wilayah darat sekitar 1.026 kilometer persegi dan laut 781 kilometer persegi, Talisayan memiliki karakter geografis yang beragam serta potensi besar di sektor perkebunan dan pariwisata.
Sejumlah potensi wisata, seperti wisata hutan sungai dan kawasan hutan desa, dinilai masih dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah kampung pun dinilai telah bersinergi dalam mendorong pembangunan dan pengembangan potensi lokal.
“Pembangunan di Talisayan saat ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kolaborasi antar kampung terus dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli kampung,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menegaskan potensi wisata di Kecamatan Talisayan harus dibarengi dengan tata kelola lingkungan yang baik, khususnya pengelolaan sampah.
“Pariwisata harus identik dengan keindahan dan kebersihan. Pengelolaan sampah harus menjadi perhatian bersama,” tegas Bupati.
Ia mendorong agar pemilahan sampah organik dan anorganik dimulai dari tingkat rumah tangga, mengingat sampah kini juga memiliki nilai ekonomi.
“Kalau dikelola dengan baik, sampah bisa bernilai rupiah. Ini bisa dimulai dari lingkungan rumah hingga pengolahan massal,” katanya.
Di sektor pertanian dan perkebunan, Pemkab Berau mendorong pengembangan melalui pemberian bibit jagung dan bantuan alat pertanian. Di tengah keterbatasan anggaran, inovasi dan kemandirian kampung dinilai menjadi kunci.
“Kita harus berinovasi dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki,” ujar Sri Juniarsih.
Selain itu, Pemkab Berau juga mengalokasikan pengadaan penerangan jalan umum (PJU) untuk empat kampung pada tahun ini, yakni Kampung EkaSapta, Sumber Mulia, Purnasari Jaya, dan Suka Muria. Bantuan hibah rumah ibadah, baik masjid, musala, maupun gereja, juga tetap dialokasikan meski anggaran terbatas.
“Secara khusus saya meminta perusahaan agar dana CSR dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (Man)













